JILBAB, BUDAYA ARAB?

JILBAB, BUDAYA ARAB?


“Islam adalah satu-satunya agama yang memuliakan wanita dan memberikan perhatian yang besar terhadapnya.

Bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala telah menetapkan hukum-hukum tersebut adalah kewajiban menggenakan hijab.

Hijab adalah sesuatu (jilbab) yang dikenakan untuk menutupi bagian-bagian tubuh wanita yang dapat menimbulkan godaan.

Hijab dapat melindungi wanita dari gangguan yang mungkin didapatkannya dari pria karena wanita adalah letak terjadinya fitnah dan timbulnya hasrat bagi pria.

Jika wanita tampak bagian-bagian tubuhnya yang dapat menimbulkan godaan, sangat mungkin pria terjerumus kedalam hal-hal yang diharamkan.

Oleh karena itulah, syariat Islam yang mulia, penuh dengan kemudahan, dan selalu sejalan dengan akal dan fitrah yang lurus mewajibkan wanita mengenakan hijab.

Dengan hijab, wanita dapat menjaga kesucian dirinya dan menghindari kaum pria dari godaan dan maksiat

📖 Allaah ta’ala berfirman dalam QS. an-Nur: 31 ;

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [النور : 31]

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada:
suami mereka,
atau ayah mereka,
atau ayah suami mereka,
atau putera-putera mereka,
atau putera-putera suami mereka,
atau saudara-saudara laki-laki mereka,
atau putera-putera saudara lelaki mereka,
atau putera-putera saudara perempuan mereka,
atau wanita-wanita islam,
atau budak-budak yang mereka miliki,

atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)
atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

‘Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan,
“Semoga Allah merahmati para wanita yang pertama-tama hijrah. Ketika Allaah menurunkan, ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka,’ mereka lantas merobek kain-kain mereka dan mengenakannya sebagai kudung (yang menutupi tubuh mereka).”
(HR. al-Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan hadist ini,
“Ucapan ‘Aisyah ‘mengenakannya sebagai kudung’ adalah (termasuk) menutupi wajah mereka dengan kudung tersebut.”
(Fathul Bari)

Al-Imam asy-Syinqithi rahimahullah menegaskan,
“Tindakan wanita berhijab dari kaum pria dan menutupi wajahnya degan hijab tersebut telah ditetapkan dalam as-Sunnah yang shahih yang menafsirkan Kitabullah. ‘Aisyah radhiyallahu’anha telah memuji para wanita yang bergegas melaksanakan perintah Allah dalam Kitabnya. Tentu mereka tidak akan memahami adanya perintah menutupi wajah kecuali dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Sebab beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam masih ada dan merekapun menyatakan kepada beliau berbagai persoalan agama yang sulit bagi mereka.”
(Adhwa ‘ul Bayan)

Allah ta’ala juga berfirman dalam QS. al-Ahzab: 59

يا أيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفورا رحيما

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah, dalam tafsirnya mengatakan,
“Wanita arab dahulu memiliki kebiasaan mengenakan pakaian sehari-hari, sedang wajahnya dalam keadaan terbuka, sehingga pria terdorong untuk melihatnya dan pikirannya bercabang kepadanya. Maka dari itu, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyuruh mereka mengenakan dan mengulurkan jilbab ke tubuh mereka jika mereka keluar hendak untuk menunaikan keperluan.”

“Kata jalabib adalah bentuk jamak jilbab, yaitu pakaian yang lebih besar dari pada khimar (kudung).

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud ر ضي الله عنهما , keduanya berpendapat bahwa jilbab adalah rida/jubah.
Ada juga yang menyebutkan bahwa jilbab adalah penutup kepala dan wajah.

Yang benar, JILBAB adalah pakaian yang dapat menutupi seluruh tubuh (termasuk wajah).

Dalam Shahih Muslim disebutkan riwayat dari Ummu ‘Athiyyah, beliau berkata,
“Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.”

Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab,
“Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya’.”
(al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)

Sahabat Ibnu ‘Abbas mengatakan,
“Allah memerintahkan kepada para wanita kaum mukminin, apabila mereka hendak keluar dari rumah untuk suatu keperluan, agar menutupi wajah mereka dari atas kepala dengan jilbab.”
(Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim)

Al-Imam al-Baidhawi asy-Syafi’i ر حمه الله berkata
“Firman Allah, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka,’ maksudnya mereka menutupi wajah dan tubuh mereka dengan kain apabila hendak keluar untuk suatu kebutuhan.”
(Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil)

Cadar dan sarung tangan adalah bagian dari jilbab yang biasa dikenakan oleh kaum muslimah setelah turun perintah untuk memakai jilbab.

Oleh karena itu, ketika syariat menetapkan bagi wanita yang hendak melakukan ihram agar tidak memakai cadar dan sarung tangan,

Nabi صلى الله عليه وسلم pun menghimbau para wanita melalui sabdanya,

“Wanita yang sedang berihram tidak boleh mengenakan cadar dan sarung tangan.”
(HR. al-Bukhari)

Syaikhul Islam ر حمه الله mengatakan,
“Hal ini menunjukkan bahwa cadar dan sarung tangan biasa dipakai oleh para wanita yang tidak sedang ihram. Hal ini pun memberikan gambaran bahwa mereka senantiasa menutupi wajah dan kedua telapak tangan.”
( Majmu’ul Fatawa )

Mengenakan jilbab bagi wanita adalah ibadah berdasarkan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Jilbab adalah gambaran akhlak dan sifat malu, sedangkan sifat malu adalah bagian dari iman.

Maka dari itu, para wanita hendaklah bertakwa kepada Allah dengan mengenakan jilbab syar’i seperti yang telah dikenakan oleh istri-istri Nabi صلى الله عليه وسلم dan para wanita muslimah, dalam rangka beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya serta mengharapkan pahala.

Belakangan banyak orang yang mengkritik, menyindir, dan mengejek hijab wanita muslimah melalui berbagai media informasi, baik dalam bentuk audio maupun visual, yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Ada yang mengatakan bahwa jilbab yang menutupi seluruh tubuh, termasuk wajah, adalah adat atau budaya Arab.

Benarkah demikian?

Ada yang mengatakan bahwa jilbab yang menutupi seluruh tubuh, termasuk wajah, adalah adat atau budaya Arab.

Benarkah demikian?

Jawabannya tentu tidak!

Sebab, hijab atau jilbab yang disyariatkan oleh Islam atas para wanita sesungguhnya tidak dikenal oleh Arab sebelum kedatangan Islam.

Faktanya, Allah سبحانه وتعالى mencela para wanita jahiliah (sebelum islam) yang memiliki kebiasaan ber-tabarruj.

Kemudian, Allah memberikan arahan kepada wanita muslimah agar tidak ber-tabarruj sehingga tidak menyerupai wanita jahiliah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وََ لا تَبَرَّجْنَ
تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kalian (para wanita) tetap dirumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dulu.”
(Q.S al-Ahzab: 33)

Sudah menjadi kebiasaan dan budaya jahiliah bahwa para wanita keluar dari rumah dalam keadaan berhias dan menampakkan wajah.

Untuk itu, Allah mewajibkan jilbab kepada para wanita setelah islam datang. Tujuannya adalah mengangkat kedudukan para wanita dan menjaga kehormatan mereka serta mencegah gangguan dari orang-orang fasik.

Dengan demikian, jilbab bukanlah budaya Arab dan tidak mengandung sisi, budayanya.

Akan tetapi, JILBAB ADALAH AJARAN ISLAM SEUTUHNYA.

Sebaliknya, tidak berjilbab adalah budaya jahiliah.

Mengenakan jilbab adalah bentuk kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan merupakan upaya menggapai kesucian dan melindungi kaum laki-laki dari kemaksiatan.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.”
(Q.S al-Ahzab: 36)

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَعاً فَسْٔلُوهُنَّ مِن وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri nabi), mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.”
( Q.S al-Ahzab: 53 )

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلىَ الرِّخَالِ مِنَ النِّسَا
“Tidaklah ku tinggalkan di belakangku ujian yang lebih berbahaya bagi kaum pria selain godaan wanita.”
( HR. al-Bukhari )

Wallahu a’lam.

Ust. Abu Hamzah Yusuf hafizhahullah

Sumber: Qonitah edisi 32/Vol. 03/1438H-2017M hal 4-7 (akhwat.net)