JANGAN BANGGA DENGAN DOSA

Jangan Bangga Dengan Dosa !

Jika seorang berbuat dosa, na’udzubillah, lalu Allah subhanahu wata’ala menutupinya dari manusia maka janganlah berbangga.
Bila ternyata ia bertindak durhaka, kemudian Allah justru menambahkan kenikmatan-Nya maka janganlah terpedaya.
Seakan dosa tidak membawa bencana.
Seolah kesalahan tidak mendatangkan kesialan.
Jangan tertipu!

Jangan meremehkan tabir yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala terhadap dosanya. Jangan pula menyepelekan kesabaran serta penangguhan Allah terhadap kesalahannya. Padahal, dia tidak tahu bahwa penagguhan itu hanyalah untuk memperbanyak dosanya. Itulah penangguhan yang Allah berikan kepada para pendosa. Hukuman baginya ditunda. Supaya ia bisa merasakan hukuman yang lebih dahsyat di alam baka.

Jangan berbangga dengan dosa!

Jangan kamu umbar aib dan salahmu pada manusia. Ingat, hal itu hanya akan menambah dosa. Dosamu akan semakin bertumpuk dalam keadaan kamu tidak merasa.

Ingat pesan dan wasiat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam,
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًی إِلَّا المُجَاهِرِينَ, مِنَ المُجَاهَرتِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ العَمَلَ بِلَّيْلِ, ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرْهُ اللَّهُ عَلَيْهِ,فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ, عَمِلْتُالبَارِهَةَ كَذَا وَكَذَا, وَقَدْ يَاَتَ يَسْتُرُهُ اللّهُ عَلَيْهِ, وَيُصْبِحْ يَكْسِفُ سِتْرُ اللّهِ عَنْهُ
“Semua umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Termasuk terang-terangan dalam bermaksiat adalah seseorang berbuat maksiat pada malam hari, lalu keesokannya Allah menutupi kesalahan tersebut, tetapi dia mengatakan, “Wahai fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu.” Pada malam hari Allah menutupi kesalahannya, tetapi keesokannya dia sendiri yang menyingkap tabir Allah dari dirinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jangan berbangga dengan dosa!

Janganlah seseorang membeberkan aib dirinya sendiri. Bisa jadi, orang lain akan meniru perbuatannya. Sehingga, dosanya akan semakin bertambah dan bertumpuk. Sekalipun dia telah mati, kejelekannya terus menyebar di penjuru dunia.

Maka dari itu, beruntunglah orang yang ketika dia meninggal, mati pula dosa-dosanya besarnya.

Dalam sebuah hadist disebutkan,

مَنْ سَنَّ فِي الٔإسْلاَمِ سُنَّةٌ سَيِّئةٌ كاَنَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa menghidupkan sebuah kejelekan dalam Islam, dia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelah dirinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”

Dosa seorang alim berlipat ganda manakala ditiru orang lain, sebagaimana kebaikannya pun berlipat ganda manakala diteladani orang lain. Hendaknya seorang alim bersikap tengah dalam hal penampilan dan penggunaan harta. Seyogyanya dia sederhana karena manusia senantiasa memerhatikan dirinya.

Disebutkan dalam kitab Mukhtasar Minhajul Qashidin, ada seorang raja selalu memaksa rakyatnya memakan daging babi. Didatangkanlah seorang alim di hadapannya.

Lalu pelayan raja berkata kepadanya,
“Saya telah menyembelih seekor anak kambing untuk anda. Makanlah!”

Daging tersebut dihidangkan kepadanya. Tetapi si alim enggan memakannya. Sang raja pun memerintahkan agar Alim tersebut dibunuh.

“Bukanlah saya telah mengatakan kepada anda bahwa itu daging anak kambing!” kata si pelayan.

Si Alim menjawab,
“Orang-orang tidk tahu bahwa itu adalah daging kambing. Tahu mereka, daging itu pasti daging babi. Kalau aku memakannya, orang-orang pasti akan mengikutiku!”

Sungguh, si Alim yang berjalan dengan ilmunya. Ia tahu manusia akan menirunya jika ia makan daging itu. Wallahu a’lam

Ustadz Abu Abdillah Majdiy
Sumber : Majalah Qudwah Edisi 49 Vol 05 1439 H