MENIKAHLAH….

KITABUN NIKAH

Berkata asy Syaikh al Allamah Shalih al Fauzan حفظه الله:

هذا الموضوع له أهمية بالغة، جعلت الفقهاء يجعلون له في مصنفاتهم مكانا رحبا، يفصلون فيه أحكامه، ويوضحون فيه مقاصده وآثاره.

Tema ini sangatlah penting, yang para fuqaha (ulama fiqih) menjadikan dalam tulisan-tulisan mereka tempat yang luas, merinci padanya hukum-hukumnya, menjelaskan tujuan-tujuan dan pengaruh-pengaruhnya.
(Al Mulakhos Fil Fiqhi, hlm 378)

Insya Allah تعالى kedepan kita akan membahas secara ringkas kitabun nikah dari kitab Minhajus Salikin karya asy Syaikh Abdurrahman As-Sa’di رحمه الله.

Pengertian An Nikah.

An nikah secara bahasa bermakna jima’ dan mengumpulkan antara dua sesuatu. Dan dimutlakan atas makna akad. Setiap kata an Nikah yang terdapat didalam al Qur’an bermakna akad kecuali Firman Allah تعالى,

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

“Kemudian jika suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia nikah dengan suami yang lain.”
(Al Baqarah:230) yang diinginkan dengan nikah pada ayat ini adalah jima’.

💎Adapun secara syar’i adalah

عقد شرعي يقتضي حل استمتاع كل من الزوجين بالآخر على الوجه الشرعي

Akad syar’i yang menjadikan halalnya suami istri untuk saling menikmati satu dengan yang lainnya dengan cara yang dibolehkan secara syar’i.
(Silahkan lihat Mulakhos Al Fiqh, 279 dan al Fiqih al Muyasar, 291).

Dasar disyariatkanya menikah adalah berdasarkan al Qur’an, as Sunnah dan Ijma’.

Dari al Qur’an, Allah تعالى berfirman;

فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

” Maka nikahillah perempuan yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.“
(An Nisa’ : 3)

Dari Hadits

Rasullullah صلى الله عليه وسلم bersabda:  

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah  maka menikahlah dikarenakan  dengan menikah dapat lebih menundukkan pandangan  dan menjaga kemaluan dan barangsiapa yang tidak mampu hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi diri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ijma

Berkata Imam Ibnu Qudamah;

أجمع المسلمون على أن النكاح مشروع

“Kaum muslimin sepakat bahwa nikah perkara yang disyariatkan”
(al Mughni:9/340) (AJ)

🌹akhwat.net🌹