MANA YANG LEBIH UTAMA, ANTARA MENGHAFAL AL QUR’AN DENGAN MENCARI ILMU?

Tentang Hal Mana yang Lebih Utama Antara Menghafal Al Qur’an dengan Mencari Ilmu?

Syaikhul Islam Rahimahullah ditanya: 86)

❓Manakah yang lebih utama antara menghafal Al Qur’an dengan mencari ilmu?

✏ Beliau Rahimahullah menjawab:

“Adapun ilmu yang wajib bagi setiap orang seperti ilmu tentang apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan dan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala larang, maka ilmu itu didahulukan daripada menghafal hal-hal yang tidak wajib dari Al Qur’an.

Sesungguhnya mencari ilmu yang pertama itu hukumnya wajib, dan mencari yang kedua hukumnya mustahab. Dan perkara yang wajib itu didahulukan daripada yang mustahab.

Sedang menghafal Al Qur’an, maka itu lebih didahulukan dari kebanyakan apa-apa yang dinamakan ilmu oleh manusia, yang bisa jadi ilmu itu bathil atau sedikit manfaatnya.

Menghafal Al Qur’an sebaiknya juga didahulukan dalam pelajaran, yakni bagi orang-orang yang hendak mempelajari ilmu dien baik dari sisi Ushul (pokok-pokok) atau furu’ (cabang-cabangnya).

Karena sesungguhnya, yang disyariatkan bagi orang yang memiliki keinginan seperti ini pada waktu-waktu tersebut, hendaklah ia mulai dengan menghafal Al Qur’an. Sebab Al Qur’an adalah pokok dari ilmu-ilmu dien.

Beda halnya dengan yang dilakukan oleh kebanyakan Ahlul Bid’ah dari orang-orang ajam (selain arab) dan selain mereka, dimana salah seorang dari mereka sibuk dengan ilmu yang tidak ada gunanya. Seperti ilmu Kalam, ilmu Jidal (perdebatan) atau ilmu perselisihan atau ilmu tentang furu’ (cabang-cabang yang jarang/sedikit faedahnya), atau taqlid yang tidak tegak di atas hujjah atau perkata gharib (asing) dari Al Hadits yang tidak shahih, dan tidak bisa diambil manfaatnya.

Demikian pula mayoritas dari ilmu hitung/matematika yang tidak tegak di atas hujjah, kemudian meninggalkan menghafal Al Qur’an, padahal itu lebih penting dari “ilmu-ilmu” tersebut seluruhnya. Maka dalam permasalahan seperti ini harus ada perinciannya.Kemudian hal yang sangat dituntut dari Al Qur’an, adalah memahami makna-makna serta mengamalkannya. Jika bukan ini yang menjadi tujuan orang yang menghafalnya, maka ia tidak termasuk Ahlul Ilmi wad Dien. Wallahu a’lam. “

86)Al Fatawa XXIII/54

Dikutip dari:
Abdullah bin Yusuf Al ‘Ajlan, penerjemah ‘Aisyah Muhammad Bashori (Rabiuts Tsani 1434 H/Februari 2013): Mutiara Fatwa dari Lautan Ilmu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Cahaya Tauhid Press, hal 93-95.