INDAHNYA MEMAAFKAN

Indahnya Memaafkan

Problem rumah tangga yang timbul karena kesalahan salah satu pihak kepada pasangannya sangat sering terjadi. Permasalahan akan menjadi runyam tatkala pihak yang disakiti berat memaafkan kesalahan pasangannya meskipun ia sudah sadar dan meminta maaf. Alasan apapun yang disampaikan tidak digubris, justru kesalahan itu tadi yang terus diingat-ingat dan dibesar-besarkan di dalam hatinya.

Duhai, dari mana kebahagiaan akan datang jika seseorang memiliki sifat seperti ini?
Demikiankah Islam mengajari kita?

❌✋🏻 Tidak Ada Manusia Yang Sempurna

Pasangan hidup kita adalah manusia yang tercipta dengan segenap kekurangannya. Tidak ada manusia yang sempurna. Dia terkadang salah dan terkadang benar. Tidak mungkin seseorang mendapatkan segala yang diinginkannya dari pasangannya.

✓ Rasulullaah صلى الله عليه وسلم bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam sering melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertobat.”
(Hadits dari Sahabat Anas bin Malik رضى الله عنه ; dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2499)

Inilah sifat manusia yang sudah menjadi fitrahnya. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Dosa dan kesalahan adalah hal yang meliputi kehidupan manusia, entah dia sengaja melakukannya entah tidak.

Harus dipahami bahwa orang yang baik bukanlah orang yang tidak memiliki kesalahan sama sekali karena hal itu mustahil. Namun, orang yang baik adalah orang yang mau menyadari kekurangan dan kesalahannya, bersegera bertobat dan memperbaiki diri tatkala tergelincir dalam kesalahan.

☝🏻🌹 Allah سبحانه وتعالى Menerima Tobat Orang-orang yang Bersalah.

✓ Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya, Allah عزوخل membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat orang-orang yang berbuat kesalahan pada siang hari, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat orang-orang yang berbuat kesalahan pada malam hari, sampai terbit matahari dari arah terbenamnya.”
(Shahih Muslim, “Kitabut Taubah”, no. 4873 dan 4954)

👉🏻 Allah عزوخل Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, selalu menerima tobat hamba-hambaNya yang berbuat kesalahan selama mereka memenuhi syarat-syarat tobat.

👉🏻 Adapun dalam hubungan antarmanusia, Islam mengajari pihak yang bersalah untuk meminta maaf dan pihak yang disakiti untuk mudah memaafkan.

🌹 Memaafkan Kesalahannya

Jika seseorang berbuat jelek kepada pasangannya lalu bertobat kepada Allah dan meminta maaf serta menyampaikan alasan kepada pasangannya, tidak ada jalan yang lebih mulia baginya selain memaafkan dan menerima alasannya. Sungguh, hal ini adalah kemuliaan karena merupakan realisasi perintah Allah عزوخل kepada kita.

Sebagian orang memahami bahwa memaafkan adalah kekalahan dan kelemahan. Dia tidak puas sebelum membalas sakit hatinya dengan balasan yang setimpal atau lebih. Ini kekeliruan.

✓ Allah سبحانه وتعالى berfirman,

خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
(al-A’raf: 199)

Jelas dalam ayat ini bahwa Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjadi pemaaf, bukan menjadi orang yang kaku, egois, dan suka membalas dendam.

Suami atau istri yang enggan memaafkan pasangannya dalam kesalahan-kesalahan kecil bukanlah orang yang memiliki akhlak yang mulia, yaitu suka memaafkan dan berlapang dada.

Hanya kekakuan hubungan yang akan dituai dari sikap ini, yang akhirnya berkembang menjadi kebencian dan permusuhan. Bahkan, terkadang perseteruan itu berlarut-larut hingga berbuah perceraian.

• Namun, apakah semua perbuatan memaafkan dan berlapang dada itu baik❓

✏ Asy-Syaikh al-‘Utsaimin رحمه الله , dalam kitab beliau, Syarh Riyadhis Shalihin, memberikan semacam kaidah dalam hal ini.

Kata beliau:
“Apabila Anda mendapat gangguan yang berkaitan dengan urusan dunia dan pergaulan manusia, Anda diberi pilihan.

Jika anda mau, bersabarlah, dan jika Anda mau, ambillah hak Anda, tetapi bersabar itu lebih utama.

Namun, jika kesabaran anda justru membuat pelaku kejelekan tersebut bertambah zalim dan terus-menerus berbuat aniaya, menuntut hak lebih utama.

Contohnya, jika Anda memiliki seorang tetangga yang menyakiti anda dengan suara-suara gaduh atau ketukan-ketukan di dinding, memarkir mobil di depan rumah Anda, dan sebagainya, Anda memiliki hak pilih. Jika menghendaki, Anda bisa bersabar, menanggung gangguan dan menunggu kelapangan. Allah akan menjadikan penolong untuk Anda dalam menghadapinya. Namun, jika Anda menghendaki, tuntutlah hak Anda.

✓ Hal ini berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى ,

وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعۡدَ ظُلۡمِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَا عَلَيۡهِم مِّن سَبِيلٍ

“Dan sesungguhnya, orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada dosa sedikit pun atas mereka.”
(sh-Shura: 41)

Akan tetapi bersabar lebih utama selama tidak membuat pelaku kejelekan tadi menjadi-jadi. Ketika hal ini terjadi, yang lebih utama adalah menuntut hak untuk membuatnya jera dari kezalimannya.”
(Lihat Syarh Riyadhis Shalihin 1/,35, cet. Dar as-Salam)

Demikian juga dalam kehidupan pasutri. Dalam hal memaafkan kesalahan istri kepada suami atau sebaliknya, perlu dilihat maslahat dan mafsadatnya. Kenalilah karakter pasangan masing-masing.

Ada tipe orang yang pada dasarnya baik dan menginginkan kebaikan, tetapi pada suatu saat tergelincir sehingga menyakiti pasangannya. Orang yang seperti ini selayaknya di maafkan. Adapula tipe orang buruk yang sering sengaja memancing pertengkaran, maka orang ini terkadang butuh diberi pelajaran. Ada lagi orang yang menyakiti karena kejahilannya, maka yang terbaik adalah berpaling dari kejelekannya sambil menasihatinya dan berusaha menyampaikan kepadanya ilmu yang benar.

Maka dari itu, pandai-pandailah menentukan sikap. Selama berlapang dada dan memberi maaf mendatangkan maslahat, itu yang utama.
Namun, jika ternyata mafsadat yang muncul, menuntut hak lebih utama.

Bagi para suami yang di tangannya terletak keputusan cerai, hati-hati, jangan terburu-buru. Wanita adalah makhluk yang bengkok sejak asal penciptaannya. Sering kali emosi lebih dia kedepankan dari pada akal sehatnya.

Saat istri menampakkan sikap menyakitkan, jangan buru-buru memvonis sebelum menyelidiki akar permasalahannya. Perhatikan alasan-alasan dan keadaan-keadaan yang padanya muncul sikap tersebut semaksimal mungkin hingga permasalahan dan pengaruh buruknya tidak semakin membesar.

✓ Rasulullah صلى الله عليه وسلم , sebagai uswah hasanah, menghadapi kesalahan-kesalahan istrinya dengan ketenangan dan hikmah selama kesalahan mereka bukan pelanggaran terhadap hak Allah.

Betapa banyak pasutri yang terlanjur bercerai kemudian menyesal, dan betapa banyak pula akibat buruk yang timbul akibat perceraian.

🌹 Para istri yang sangat butuh bimbingan suami hendaklah sering mengoreksi kekurangan yang ada pada dirinya sebagai kaum wanita yang kurang akal dan agamanya.
🌹 Carilah kerelaan suami dengan menaatinya, selama bukan dalam kemaksiatan, dan melayaninya.
💬📍 Jangan meninggikan suara di hadapan suami sekalipun si istrilah yang benar.
✋🏻❌ Jangan banyak menuntut hak.

Insya Allah, sikap demikian ini akan memperbaiki kondisi suami jika suami suka menyakiti istri. Akan tetapi, jika tidak ada sikap tersebut pada istri, bahkan dia mengedepankan emosinya, bisa jadi suami akan tepicu untuk menjatuhkan cerai padanya dan berakhir dengan penyesalan yang tiada gunanya.

Demikianlah sekelumit bahasan yang bisa kami hadirkan kali ini. Semoga bermanfaat.

Wallahu Ta’ala a’lamu bish shawab.

(Al-Ustadzah Ummu Luqman Salma)
Sumber: Majalah Qonittah Edisi 34/vol. 03/ 1439H – 2018M