9 HAL PENTING TENTANG AIR

🚰 9 Hal Penting Tentang Air 🚰

🚿 Thaharah (bersuci) membutuhkan sesuatu yang di gunakan untuk bersuci, yaitu untuk menghilangkan najis dan mengangkat hadats. Sesuatu tersebut adalah air.

⬇ Berikut ini 9 hal penting untuk diketahui tentang air,

1. Air yang digunakan untuk bersuci adalah air yang suci, yaitu suci zatnya dan bisa mensucikan yang lain. Baik air yang turun dari langit seperti hujan atau keluar dari bumi seperti mata air, sumur dan lainnya.

√ Allah Ta’aala berfirman,

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ 

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu.”
(QS. Al Anfal:11)

√ Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Laut itu suci airnya, halal bangkainya.”
(HR. Abu Dawud, at Tirmidzi, an Nasa’i dan Ibnu Majah, di shahihkan oleh syaikh Al Albani)

2. Bersuci tidak boleh dilakukan dengan cairan selain air, seperti cuka, bensin, sirup, air perasan jeruk atau yang semisalnya.

3. Air yang terkena benda najis, jika air itu berubah salah satu sifatnya, seperti berubah baunya atau rasanya atau warnanya maka air tesebut menjadi najis dan tidak boleh digunakan berdasarkan Ijma’. Jika air yang terkena benda najis tersebut tidak berubah salah satu sifatnya, maka air tersebut tetap suci lagi dapat mensucikan.

4. Air yang tercampur benda suci, walaupun berubah salah satu sifatnya, selama masih dikatakan air, maka air itu suci lagi dapat mensucikan.

√ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، بِمَاءٍ
وَسِدْرٍ، وَاجْعَلْنَ فِي الآخِرَةِ كَافُورًا – أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ – 

“Mandikanlah ia tiga kali, atau lima kali atau lebih dari itu, jika kalian menganggap hal itu perlu, dengan air atau daun bidara, dan pergunakanlah pada basuhan terakhir kapur barus atau sedikit kapur barus.”
(Muttafaqun ‘alaihi)

5. Air musta’mal adalah air yang telah di gunakan untuk bersuci, seperti air yang berjatuhan dari anggota wudhu; hukumnya adalah suci lagi dapat menyucikan.

6. Air yang tersisa dari sebuah bejana (wadah) yang telah di minum oleh manusia, baik muslim atau kafir hukumnya suci. Demikian juga air yang tersisa setelah di minum oleh orang yang sedang junub dan haid.

7. Air yang tersisa setelah di minum oleh hewan yang dagingnya boleh di makan hukumnya suci. Bahkan dalam masalah ini adanya Ijma ulama.

8. Air yang tersisa setelah di minum oleh hewan yang dagingnya tidak boleh di makan, seperti binatang buas dan keledai jinak, yang benar adalah bekas minumnya suci, khususnya jika airnya banyak. Akan tetapi jika airnya sedikit dan berubah salah satu sifatnya karena di minum binatang tersebut hukumnya menjadi najis.

9. Air bekas anjing dan babi adalah najis.

√ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

طُهُورُ إِنَاءِ أحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الكَلْبُ أنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Sucinya bejana salah seorang diantara kalian apabila anjing menjilatnya adalah dengan di basuh sebanyak tujuh kali, dan yang pertama dengan tanah”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam bish shawwab. (AJ)

Sumber bacaan:

  1. Fiqih Muyassar
  2. Dll

Admin akhwat.net