SUARA SEPATU WANITA

Suara Sepatu Wanita

❓Soal:
Apakah berdosa seorang wanita memakai sepatu yang mengeluarkan suara/berbunyi saat dipakai berjalan?

📝 Jawab:

Asy Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjawab,

“Bagaimana tidak berdosa sepatu-sepatu wanita yang bagian bawahnya dilapisi besi atau bahan logam lain sejenis yang mengeluarkan bunyi saat dipakai berjalan?! Sungguh, itu merupakan penyelisihan terhadap larangan al-Qur’an dengan model atau cara yang lain.

✓ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

‎ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ

“Janganlah mereka memukulkan/mengentakkan kaki-kaki mereka (sehingga mengeluarkan bunyi) agar diketahui perhiasan (gelang-gelang kaki) yang mereka sembunyikan (di balik pakaian)”
(QS. an-Nur:31)

Pada hari ini, larangan al-Qur’an di atas diselisihi, tidak dengan mengentakkan kaki agar terdengar suara gemerincing perhiasan yang tersembunyi di balik pakaian, yaitu suara gelang kaki yang kalian kenali dipakai pada bagian bawah betis.

Penyelisihan ayat di atas pada hari ini bukan dalam bentuk gelang kaki yang dihentakkan pemakainya. Yang tersebar sekarang adalah wanita menapakkannya dengan keras ke tanah agar terdengar suara sandal/sepatu yang dikenakannya.
👠👡 Sandal atau sepatu tersebut bisa terdengar suara/bunyinya karena memiliki hak tinggi yang dilapisi besi sebagaimana yang kita katakan.

Yang kita tahu, besi itu lazimnya dipakaikan pada hewan tertentu. Namun, ternyata urusannya melonjak dan pada peradaban Eropa yang buruk berlumur dosa terangkat (masuk ke negeri kaum muslimin).

Mereka pun meletakkan besi pada sepatu yang dikenakan wanita. Dahulu besi itu hanyalah dikenakan untuk hewan-hewan yang memikul beban berat. Akan tetapi, pada hari ini besi juga dipakai pada sepatu tinggi wanita.

☝🏻❌ Kesimpulan dari semua ini adalah wanita tidak boleh memperdengarkan bunyi sandal atau sepatu yang dikenakannya.

👉 Wanita wajib menundukkan pandangan dan menjaga jalannya.

👉 Hendaknya dia berjalan dengan tenang, tidak menimbulkan kegaduhan, dan tidak menimbulkan suara saat menyeret sepatu atau sandalnya.

Subhanallah, memang kita teramat sangat jauh dari adab-adab Islam, sementara kita gembar-gembor berbicara ingin mewujudkan masyarakat islami.

Wahai sekalian jamaah, jika kita tidak mewujudkan masyarakat islami di dalam rumah, tetangga, dan di kampung kita, niscaya kita pun tidak mampu merealisasikannya di kota, ibu kota negara kita, kota besar lainnya, dan di negara kita secara luas.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengingatkan-dan peringatan itu bermanfaat untuk orang-orang yang beriman. Saya ingin mengingatkan diri kita dan para wanita kita. Kita yang mengaku berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, tetapi para wanita kita pada hari ini justru jauh dari penerapan sunnah, yaitu metode nabawi.

Di antara penyelisihan yang dilakukan wanita pada zaman ini, bisa kita saksikan dengan membandingkannya dengan wanita pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam saat berjalan di luar rumah. Kondisi jalanan masa itu kita maklumi amat jauh tertinggal dibandingkan dengan jalan-jalan sekarang. Jalan-jalan masa itu belum sebagus sekarang.

Pada masa itu, para wanita membiarkan bagian tengah jalan untuk para lelaki. Mereka memilih berjalan menempel di dinding/tembok rumah, sampai-sampai pakaian dan jilbab mereka bergantung/menempel dengan tembok, dikarenakan tembok di masa itu tidaklah licin seperti tembok kita pada hari ini, masya Allah.
Tembok pada masa itu terbuat dari tanah, kayu, dan semisalnya. Wanita-wanita pada masa itu mengambil bagian pinggir jalanan saat berjalan sampai mepet ke dinding-dinding rumah yang dilewati.

💦Sementara itu, wanita-wanita kita pada hari ini, bagaimana? Apa yang harus saya katakan? Apakah saya katakan wanita-wanita kita lebih berani?

Tentu saja tidak bisa aku katakan demikian. Yang tepat untuk aku katakan adalah wanita sekarang sedikit rasa malunya dibanding lelaki. Dengan seenaknya, tanpa peduli dan tanpa rasa malu dia mengambil alih bagian tengah jalanan, menyalip di antara pemuda dan para lelaki. Yang seperti ini jelas tidak diperbolehkan oleh syari’at. Saat berjalan, wanita wajib mengambil sisi/pinggir kanan atau kiri jalan.

🍃Demikianlah sifat wanita yang memiliki rasa malu, seperti yang disebutkan ibunda kita, Aisyah radhiyallahu ‘anha, saat menyebutkan sifat wanita-wanita Anshar dengan perangai yang terpuji ini.

🍃Sungguh, malu itu seluruhnya baik. Malu adalah bagian dari keimanan.

✓ Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

رَحِمَ اللهُ نِسَاءَالْأَنْصَارِلَمْ يَمْنَعْهُنَّ حَيَاءُهُنَّ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِيْ الدَّيْنِ


“Semoga Allah merahmati wanita-wanita Anshar, rasa malu mereka tidaklah menghalangi mereka dari mempelajari/memahami agama”.
(HR. Muslim)

Mereka memiliki rasa malu lagi tenang dan berwibawa. Bersamaan dengan itu, dalam urusan agama mereka tidak malu untuk belajar dan bertanya.

Adapun hari ini telah terlepas rasa malu dari dada para wanita kecuali sedikit orang dari mereka.

Kita memohon kepada Allaah subhanahu wa ta’ala agar memperbaiki kita dan para wanita serta anak-anak kita. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membimbing para wanita kepada kelurusan.”

(Silsilah al-Huda wan Nur, kaset no. 13/190)

Dari Rubrik Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah
Asy Syari’ah No. 122/XI/1440 H/2018 Halaman 85 s.d. 86.