AMALAN YANG BISA DILAKUKAN WANITA HAID

📕 Amalan yang Bisa Dilakukan Wanita Haid 📕

Pertanyaan:
Bismillah. Amalan atau ibadah apa saja yang boleh dilakukan oleh wanita yang sedang haid? Sebab, selama haid, wanita tidak boleh shalat, puasa, membaca al-Qur’an, dst. Mohon penjelasan. 
Jazakumullah khairan.

🔑 Jawab:

“Alhamdulillah, haid bukanlah penghalang bagi seorang wanita untuk beramal dan meraih pahala besar di sisi Allah. Banyak pintu kebaikan dan ibadah yang dibukakan oleh Allah bagi kaum wanita meskipun mereka dalam keadaan haid atau nifas.

Perkara pertama yang kami wasiatkan, hendaknya setiap wanita ridha dengan ketentuan Allah yang Dia tetapkan kepada kaum wanita, berupa haid dan nifas, yang demikian besar hikmahnya.

Ketahuilah, barakallahu fikum, sesungguhnya ridha terhadap takdir Allah adalah kemuliaan tersendiri bagi kaum wanita, dan ibadah hati yang demikian besar nilainya di sisi Allah.

🕋 Saat Haji Wada’, ‘Aisyah tiba di Makkah dan tidak bisa menyelesaikan umrahnya karena sedang haid. Wanita haid tidak boleh thawaf. ‘Aisyah pun menangis karenanya.

✓ Dengan penuh kearifan, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

“Sesungguhnya haid ini perkara yang telah ditetapkan oleh Allah untuk anak-anak perempuan Adam.” (HR. al-Bukhari  dan  Muslim)

Subhanallah, betapa tampak kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Beliau menghibur Ummul Mukminin.

Beliau ingatkan dia bahwa haid adalah ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam sabda beliau ini juga terdapat dorongan bagi wanita untuk meridhai ketetapan Allah atas semua anak wanita Adam.

Haid bukan hanya menimpa anak Adam. Bahkan, dinukilkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari, dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Hawa juga ditimpa haid setelah diturunkan oleh Allah dari jannah ke muka bumi.

📌 Benar selama haid memang ada beberapa ibadah yang tidak boleh dilakukan, seperti shalat dan puasa. Wanita haid juga tidak boleh berjima’(bersebadan) dengan suaminya.

📌 Kaum muslimin bersepakat (ijma’) bahwa wanita yang haid dan nifas tidak boleh melakukan shalat, baik shalat fardhu maupun shalat nafilah. Bahkan, kewajiban shalat gugur darinya dan tidak ada kewajiban qadha atasnya.

📌 Adapun puasa, ijma’ juga menyatakan bahwa wanita haid dan nifas tidak boleh berpuasa. Namun, dia wajib menggantinya pada hari lain saat suci (jika yang ditinggalkannya adalah puasa Ramadhan, -ed.).

Shalat dan puasa memang tidak diperbolehkan bagi mereka, tetapi ibadah-ibadah lain masih terbuka lebar.

👉 Di antara yang bisa dilakukan adalah membaca al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Bahkan, amalan haji dan umrah pun tidak disyaratkan dilakukan dalam keadaan suci, kecuali thawaf.

❌ Adapun apa yang disampaikan penanya bahwa wanita haid tidak boleh membaca al-Qur’an, hal ini tidak benar. Keadaan suci bukan syarat dalam berzikir dan membaca al-Qur’an. Wanita yang haid atau nifas boleh berzikir dan membaca al-Qur’an, baik dari hafalannya maupun dari mushaf.

✓ Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah  radhiyallahu ‘anha,

كاَنَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berzikir kepada Allah di setiap keadaan beliau.”

✓ Hal itu juga berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,, ketika beliau haid dan tidak bisa thawaf. Rasul  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

اِفْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَلَّا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

“Lakukanlah segala yang dilakukan oleh jemaah haji. Hanya saja, janganlah kamu thawaf di Baitullah.”

👆 Hadits ini menunjukkan bahwa semua amalan haji—seperti berzikir, bertalbiah, bertahlil (membaca la ilaha illallah), berdoa, membaca al-Qur’an, melempar jumrah, wuquf di Arafah, mendengarkan khotbah, dll.—boleh dilakukan, kecuali thawaf.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat sampai di Dzul Hulaifah untuk ihram dalam Haji Wada’, salah seorang shahabiyyah melahirkan putranya.  Shahabiyyah tersebut adalah Asma’ bintu ‘Umais, istri Abu Bakr ash-Shiddiq. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memerintah Asma’ untuk mandi (meskipun masih nifas) dan melanjutkan perjalanan yang cukup panjang untuk melakukan haji.

🚪 Pintu kebaikan masih terus terbuka lebar bagi wanita haid dan nifas.

📥 Jika Anda adalah seorang istri, ketaatan Anda kepada suami dalam perkara yang makruf bernilai ibadah yang besar di sisi Allah. Sangat banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Bahkan, wanita yang taat kepada suaminya dipersilakan oleh Allah untuk masuk ke jannah dari pintu mana pun yang dikehendakinya.

🤚🏻❌ Haid tidak menghalangi wanita untuk membahagiakan suaminya dengan kemesraan. Banyak contoh dalam kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersama ‘Aisyah yang menunjukkan keromantisan beliau dan sekaligus bakti ‘Aisyah meskipun dalam keadaan haid.
√ Di antaranya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah membaca al-Qur’an dengan berbaring di pangkuan ‘Aisyah, sementara ia dalam keadaan haid.
√ Ketika i’tikaf, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkan kepala beliau dari masjid untuk dibersihkan dan disisir oleh ‘Aisyah yang sedang haid.

Masih banyak contoh lain.

🌹 Semuanya menunjukkan bahwa pintu kebaikan bagi wanita terbuka lebar meski dia dalam keadaan haid atau nifas. Walhamdulillah.

Ust. Muhammad Rijal, LC.

https://qonitah.com/ruang-konsultasi-edisi-15/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *