PERBEDAAN HARI RAYA

🌤🏷 Perbedaan Hari Raya 🏷🌤

Fatwa Ulama Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah

❓Tanya:
Bagaimana pandangan Islam terhadap perbedaan di kalangan kaum muslimin dalam menentukan Idul Fitri atau Idul Adha? Karena hal ini berpengaruh terhadap amalan puasa, yaitu bisa jadi seseorang berpuasa di hari yang dilarang untuk berpuasa karena sudah masuk Idul Fitri atau sebaliknya ia berbuka pada hari ia wajib berpuasa. Saya mengharap jawaban yang lengkap dalam masalah ini. Jika Islam melarang perbedaan dalam masalah ini, maka bagaimana cara kaum muslimin agar bisa bersatu dalam hari raya mereka?

🔑Jawab:

“Para ulama telah bersepakat dalam hal adanya perbedaan mathla’ (tempat munculnya hilal) pada tiap-tiap negara dan hal ini merupakan perkara yang telah diketahui bersama.

Namun mereka berbeda pendapat dalam hal apakah perbedaan mathla’ tersebut ikut menjadi pertimbangan dalam menentukan awal Ramadhan dan mengakhirinya atau tidak.

Sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan mathla’ ikut menjadi pertimbangan dalam menentukan awal Ramadhan dan mengakhirinya, sementara sebagian ulama lainnya berpendapat sebaliknya.

Masing-masing kelompok Ulama tersebut berdalil dengan al-Kitab, as-Sunnah, dan juga qiyas. Terkadang kedua pihak memakai dalil yang sama, seperti ayat al-Qur’an berikut ini:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ
البقرة: ١٨٥

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…”
(QS. al-Baqarah: 185)

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَن تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
البقرة: ١٨٩
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kamu beruntung.”
(QS. al-Baqarah: 189)

✓ Juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam:
صُومُوالِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوالِرُؤْيَتِهِ
“Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena kalian melihatnya.”

Perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan dalam memahami nash-nash tersebut. Juga karena adanya perbedaan dalam metode beristidlal dari masing-masing kelompok ulama tersebut.

Dalam permasalahan yang tidak terdapat dalil yang jelas, maka dibolehkan bagi para ulama untuk melakukan ijtihad. Dan dalam masalah ini, para ulama telah berbeda pendapat baik dahulu maupun sekarang.

Tidak mengapa bagi kaum muslimin di suatu negara yang tidak bisa melihat hilal pada malam ke-30 untuk mengikuti mathla’ negeri lainnya, bila di negeri tersebut hilal sudah terlihat.

📍 Jika terjadi perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, hendaknya mereka membawa masalah ini kepada pemerintah untuk memutuskannya dan keputusan tersebut wajib ditaati.

Jika pemerintahnya bukan orang Islam (karena negaranya adalah kafir), maka keputusannya diserahkan kepada Lembaga Islam yang ada, agar kaum muslimin bisa bersatu dalam memulai Ramadhan dan ber-Idul Fitri.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan taufiq-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam, keluarganya dan para shohabatnya.
(fatwa no. 338)

Dari Rubrik Fatwa Romadhon, Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi ke-7/II/1435 H/2014 Halaman 83-84.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *