RAMADHAN BULAN PERSATUAN

🌤 Ramadhan, Bulan Persatuan 🌤

✏ Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

🏷 Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُيَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُونَ

“Puasa itu pada hari kalian semua berpuasa, berbuka pada hari kalian semua berpuasa dan hari ‘iedul Adh-ha ketika kalian semua berkurban.”

🏷 Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa beliau berkata:
“Ali bin al-Aqmar mengabarkan kepadaku dari Masruq bahwa ia berkata, “Aku datang kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pada hari Arafah dan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:
‘Hidangkanlah bubur kepada Masruq dan buatlah ia lebih manis.’

Masruq berkata: ‘Tidak ada yang menghalangi aku untuk berpuasa pada hari ini kecuali aku khawatir ini adalah hari raya Qurban.’

Maka ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Hari raya Qurban adalah hari ketika orang-orang berhari raya Qurban dan hari raya Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berhari raya Idul Fitri.”
Sanad hadits ini jayyid (bagus) sebagaimana telah disebutkan di muka.

🖍 Makna Hadits

• Setelah menyebutkan hadits di atas, Imam at-Tirmidzi Rahimahullah berkata,
“Seorang ulama berkata tentang hadits ini: Makna dari hadits ini adalah agar kita berpuasa dan juga berhari raya bersama jama’ah kaum muslimin (mayoritas orang).”

• Imam ash-Shon’ani Rahimahullah di dalam Subulus-Salam (2/72) berkata:
“Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa bersepakat dengan masyarakat (kaum muslimin) dalam menentukan Idul Fitri adalah perkara yang diperintahkan. Karena itu bila ada orang yang meyakini bahwa hari tersebut adalah sudah tiba waktu Id karena ia telah melihat hilal, ia tetap harus mengikuti masyarakat banyak (kaum muslimin) karena apa yang diputuskan oleh kaum muslimin baik itu terkait dengan ibadah shalat, berhari raya, atau berqurban adalah mengikat bagi semua individu.”

• Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah Rahimahullah menyebutkan makna hadits ini di dalam Tahdzibus Sunnah (3/214):
“Dikatakan: Di dalamnya terdapat bantahan untuk orang-orang yang berpendapat bolehnya siapa saja yang telah mengetahui kemunculan hilal berdasarkan perhitungan astronomi (hisab) untuk berpuasa dan berhari raya meskipun kaum muslimin kebanyakan belum mengetahui. Juga dikatakan: Kesaksian seorang individu yang telah melihat hilal namun tidak diterima oleh hakim (qadhi), maka ia tidak boleh untuk berpuasa karena kaum muslimin yang lain belum berpuasa pula.”

• Abul Hasan as-Sindi berkata di dalam Hasyiyah ‘ala ibnu Majah setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi,
“Makna yang nampak adalah bahwa tidak ada celah bagi individu siapapun untuk memberikan pendapat dalam masalah ini atau untuk beramal secara sendirian. Sebaliknya, dalam permasalahan ini semua dikembalikan kepada penguasa (imam) dan jama’ah kaum muslimin. Wajib bagi segenap kaum muslimin untuk menaati imam dan jama’ah kaum muslimin. Termasuk bila ada seseorang yang telah melihat hilal namun hakim tidak menerima persaksiannya, ia tetap tidak memiliki hak (untuk tetap beramal sendirian). Namun ia harus mengikuti jama’ah kaum muslimin.”

Ini adalah makna yang jelas dari hadits tersebut dan juga ditekankan oleh fakta bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menerapkannya pada Masruq ketika ia melarang dirinya sendiri untuk berpuasa pada hari Arafah karena khawatir itu adalah hari raya Qurban.
Maka ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjelaskan kepada Masruq bahwa tidak ada hak bagi dia untuk berpendapat dalam masalah ini dan wajib baginya untuk mengikuti kaum muslimin (jama’ah).

Karena itu ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata,
“Hari raya Qurban adalah hari ketika orang-orang berhari raya Qurban dan hari raya Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berhari raya Idul Fitri.”

(Silsilatul Ahaadits ash-Shohihah, 1/442-445)

🖍 Persatuan adalah Salah Satu Tujuan Syari’at

Ini adalah keadaan yang sesuai dengan syari’at Islam yang mudah, yang bertujuan untuk menyatukan kaum muslimin, merapatkan barisan mereka dan menjauhkan segala perkara yang bisa merusak persatuan diantaranya adalah pendapat pribadi (tentang hilal).

Sehingga syari’at tidak memberi ruang bagi pendapat-pendapat pribadi terkait dengan ibadah jama’i seperti puasa, hari raya, dan shalat berjama’ah bahkan seandainya pendapat dari individu tersebut adalah benar.

Tidakkah kita tahu bahwa para shahabat Radhiyallahu ‘anhum dulu selalu shalat berjama’ah dalam keadaan mereka memiliki pendapat yang berseberangan. Ada di antara mereka yang berpendapat menyentuh wanita atau keluar darah dari bagian tubuh membatalkan wudhu, sementara yang lain tidak berpendapat demikian. Atau pendapat sebagian mereka bahwa orang yang safar shalatnya tidak diqashar, sementara yang lain diqashar. Perbedaan ini dan juga perbedaan lainnya tidak menghalangi para shahabat Radhiyallahu ‘anhum untuk shalat berjama’ah pada satu imam. Hal ini karena mereka paham bahwa berselisih dalam agama adalah lebih jelek daripada berbeda pendapat (dalam suatu masalah).

• Imam Abu Dawud meriwayatkan (1/307) bahwa Utsman Radhiyallahu ‘anhu shalat empat raka’at di Mina, yang membuat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengkritiknya:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ، وَمَعَ أَبِيْ بَكْرٍ رَكْعَتَيْنِ، وَمَعَ عُمَرَ رَكْعَتَيْنِ، وَمَعَ عُثْمَانَ صَدْرًا مِنْ إِمَارَتِهِ ثُمَّ أَتَمَّهَا، ثُمَّ تَفَرَّقَتْ بِكُمُ الطُّرُقُ فَلَوَدِدْتُ أَنَّ لِيْ مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ مُتَقَبَّلَتَيْنِ، ثُمَّ إِنَّ ابْنُ مَسْعُوْدٍ صَلَّى أَرْبَعًا! فَقِيْلَ لَهُ: عِبْتَ عَلَى عُثْمَانَ ثُمَّ صَلَّيْتَ أَرْبَعًا؟ قَالَ: اَلْخِلَافُ شَرٌّ

“Saya shalat dua raka’at bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, dua raka’at bersama Abu Bakar, dua raka’at bersama Umar, dan dua raka’at bersama Utsman di awal pemerintahannya. Namun kemudian ia menyempurnakan (jadi empat raka’at). Sesudah itu jalan menjadi terpecah atas kalian semua. Maka aku berharap dari yang empat raka’at ini, semoga yang dua raka’at akan diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Kemudian Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu shalat empat raka’at. Maka dikatakan padanya, “Anda mengkritik Utsman namun tetap shalat empat raka’at?”

Beliau menjawab, “Berselisih adalah kejelekan.”

Sanad hadits ini shahih dan yang semakna dengan ini diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad (5/155) dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu.

>> Oleh karena itu, bagi orang-orang yang suka memisahkan diri saat shalat dan tidak mau berjama’ah dengan imam di masjid kampungnya terutama saat shalat tarawih karena tidak sesuai dengan madzhab yang dianutnya, hendaknya ia melihat hadits dan atsar yang telah disebutkan.

Begitu pula bagi mereka yang mengaku memiliki ilmu hisab (perhitungan bintang) atau orang yang mengikuti pendapatnya sendiri dengan berpuasa atau berhari raya tidak bersamaan dengan kaum muslimin baik lebih dulu atau belakangan tanpa peduli dampak masalah yang timbul, hendaknya melihat hadits dan atsar yang telah disebutkan di atas.

Mereka semua harus melihat kembali dengan dibimbing ilmu akan dalil-dalil larangan menyelisihi kaum muslimin dalam memulai atau mengakhiri Ramadhan.

Semoga mereka mendapat obat untuk menyembuhkan kebodohan mereka sehingga akan tercipta persatuan di kalangan kaum muslimin. Sungguh tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas jama’ah.

(Silsilatul Ahaadits ash-Shohihah, 1/442-445)

Dikutip dari Rubrik Majlis Romadhon, Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi ke-7/II/1435 H/2014 Halaman 71-72.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *