IDUL FITRI ANTARA TUNTUNAN SYAR’I DAN TUNTUNAN TRADISI

🌹🌤 Idul Fitri Antara Tuntunan Syar’i dan Tuntutan Tradisi 🌤🌹

🕌 Idul Fitri merupakan hari istimewa bagi kaum muslimin. Betapa tidak? Syariat telah menetapkannya sebagai hari besar dan hari perayaan bagi umat muslim sedunia. Oleh karena itu, syariat membolehkan pemeluk islam untuk mengungkapkan kebahagiaan dan keriangan pada hari tersebut. Akan tetapi, tentu saja ada rambu-rambu syariat yang harus di perhatikan.

Jika kita cermati bagaimana masyarakat kita selama ini merayakan Idul Fitri, niscaya kita dapati Idul Fitri di sisi mereka masih sebatas tradisi dengan seabrek agenda keluarga yang jauh dari nilai- nilai islami. Lebih dari itu, seabrek pelanggaran terhadap syariat dilakukan pada hari agung ini.

⬇ Berikut beberapa bentuk pelanggaran yang paling sering terjadi pada Hari Raya Idul Fitri. Kami menyebutkannya sebagai contoh saja dan tidak bermaksud membatasi.

🎙 Takbiran 🎙

SKetika selesai melaksanakan puasa Ramadhan dan memasuki bulan Syawwal, kita diperintah oleh Allah subhanahu wata’ala untuk banyak bertakbir.

• Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman,

وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

“Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangan (bulan Ramadhan) dan bertakbir mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepada kalian dan agar kalian bersyukur.”
(al-Baqarah :185)

Takbir ini dimulai semenjak terlihatnya hilal pada bulan Syawwal.

📝 Asy-syaikh as-Sa’di Rahimahullah berkata,
“Masuk dalam perintah (bertakbir) disini bertakbir pada saat terlihat hilal bulan Syawwal hingga selesai khotbah id.”
(Taisirul Karimir Rahman, asy-Syaikh as-Sa’di)

Hanya saja, dalam praktiknya terjadi banyak sekali pelanggaran. Di antaranya adalah yang disebut acara takbiran. Di beberapa daerah kita saksikan acara tersebut dimeriahkan dengan lampion-lampion yang dibawa oleh anak-anak dan remaja-remaji masjid lengkap dengan kostum mereka. Tidak jarang pula acara tersebut melibatkan grup drumband, mengelilingi kampung atau menempuh rute tertentu.

Dengan disponsori oleh panitia hari besar islam (PHBI) setempat, acara tersebut diperlombakan dengan sekian kategori. Persiapannya dilakukan dari jauh hari, yaitu pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Pesertanya begitu antusias untuk tampil terbaik dan memenangi seluruh kategori yang di perlombakan.

💥 Menyoroti penyimpangan acara takbiran 💥

💦 Sungguh dahsyat tipu daya setan terlaknat dalam usahanya menyesatkan manusia. Kaum muslimin disibukkan dengan urusan yang sam sekali tidak pernah dilakukan oleh para pendahulu mereka.

🥀 Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang penuh dengan keutamaan dihabiskan dalam perkara yang sia-sia. Mereka begadang untuk membuat lampion. Pada pagi hari mereka sibuk berlatih baris-berbaris mengatur formasi. Seolah-olah amalan tersebut setara dengan i’tikaf di Masjid Nabawi. Ikhtilath antara pemuda dan pemudi bukan pemandangan baru lagi.

💦 Saat tiba malam Idul Fitri, mereka sibuk memakai make up dan berdandan agar tampil menarik diajang perlombaan ini. Keramaian orang bagaikan suasana pasar malam memenuhi setiap jalan yang akan mereka lalui.

🕌💦 Akan tetapi bagaimana nasib masjid-masjid kaum muslimin pada malam suci ini? Lengang.

Berkumandang adzan isya, seolah-olah mengingatkan mereka akan tipu daya si musuh abadi, seakan-akan meneriakkan ucapan,
“Sadarlah kalian, wahai kaum muslimin! Kemarilah menuju kemuliaan kalian!”

Akan tetapi, kumandang adzan yang begitu dekat tersebut hanya terdengar sayup-sayup. Lah, bagaimana mereka akan memenuhi panggilan tersebut, sedangkan wajah mereka telah penuh make up?

Biaya besar telah dianggarkan oleh panitia penyelenggara. Harta umat yang merupakan amanat titipan Allah yang akan ditanyakan pertanggungjawabannya dihamburkan begitu saja. Mereka ikuti cara orang kafir dalam merayakan hari raya.
Lampion, oh lampion …. Tradisi siapakah kiranya?

Dengan penuh percaya diri mereka berjalan menyusuri rute yang telah ditentukan. Mereka kumandangkan takbir secara jama’i, serempak dan kompak demi meraih medali karena kekompakan takbir menjadi salah satu kategori.

Sementara itu, takbir jama’i telah difatwakan sebagai amalan bid’ah oleh banyak ulama umat ini, diantaranya asy-Syaikh Ibnu Baz, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, asy-Syaikh al-Albani.

💄 Tabarruj dan Memakai Wewangian

Pada hari yang agung ini pemeluk Islam dianjurkan agar menampakkan syiar islami dengan keluar ke tanah lapang guna menjalankan sholat Idul Fitri.

Anjuran diarahkan kepada segenap muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan para gadis yang berada dalam pingitan.

☝🏻🌹 Sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan!

💦💍 Namun, sungguh sayang, para muslimah keluar dengan dandanan, dilengkapi dengan aksesoris dan perhiasan. Tidak lupa mereka memakai wewangian. Mereka bersolek ala selebritis yang hendak main sinetron.

💧 Mungkin akan timbul pertanyaan,
“Lo, memang ada apa dengan yang demikian? Bukankah wanita sewajarnya berdandan?”

📚 Islam tidak melarang seorang muslimah berdandan. Sebaliknya berdandan sangat dianjurkan dan ditekankan bagi perempuan. Namun, tujuannya berkhidmah kepada suami.

Adapun keluar dengan berdandan dan memakai minyak wangi yang bisa menimbulkan godaan bagi kaum lelaki bukanlah perbuatan terpuji, melainkan sangat diingkari.

✓ Rasulullah صلى الله عليه وسلم besabda,

وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَكَذَا وَكَذَا، يعني زانية

“Jika seorang wanita memakai minyak wangi lalu melewati suatu majelis, dia itu (wanita) yang demikian dan demikian”, yaitu wanita pezina. ‘

(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari; dinilai hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Mencukur Jenggot dan Ber-isbal

Kebiasan buruk kaum lelaki pada Hari Raya Idul Fitri adalah mencukur jenggot dan memanjangkan celana hingga ke bawah mata kaki. Saat dinasihati bahwa hal tersebut melanggar larangan Nabi, mereka menjawab “Sudah tradisi!”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزار فَفِي النَّار

“Kain sarung yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka.” (HR. al-Bukhari)

Berjabat Tangan dengan Lawan Jenis

Di antara tradisi yang masih sangat lestari ialah bersalam-salaman. Ini tradisi yang terpuji seandainya jika dilakukan dengan tuntunan syar’i. Berjabat tangan seharusnya tidak hanya dilakukan dalam momen Lebaran, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan dalih bermaaf-maafan, para pemuda-pemudi menggunakan kesempatan untuk saling berjabat tangan. Apa artinya mendapatkan maaf dari sesama kalau dilakukan dengan cara yang mendatangkan murka ar-Rahman?

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

لأن يطعن في رأس رجل بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له

“Sungguh, kepala seorang lelaki ditusuk dengan jarum besi lebih baik baginya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. ath-Thabarani dan al-Baihaqi; dinilai Shahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Halalbihalal

Bentuk tradisi yang lain adalah acara halalbihalal. Maksud acara tersebut adalah saling memberikan maaf di antara sesama. Dibuatlah seremoni khusus dengan mendatangkan seorang pembicara. Pengkhususan hari tersebut untuk saling meminta maaf adalah perkara yang tidak ada tuntunannya.

Rekreasi dan Pentas Musik

Satu lagi bentuk tradisi pada Hari Raya Idul Fitri adalah rekreasi. Setelah selesai dari tradisi saling mengunjungi, biasanya mereka berekreasi ke tempat-tempat wisata dalam negeri. Ada yang pergi ke kebun binatang, ke tempat bersejarah, ke pantai, bahkan ke candi-candi. Bukankah candi merupakan tempat ibadah orang Hindu dan Budha pemuja dewa-dewi?

Di banyak tempat wisata diadakan pentas musik sebagai pelengkap hiburan dan sekaligus daya tarik bagi wisatawan. Telah menjadi rahasia umum bahwa pentas musik merupakan ajang berbagai bentuk kemaksiatan.

Demikianlah sebagian contoh pelanggaran terhadap syariat yang sering terjadi pada Hari Raya Idul Fitri.

Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah untuk bisa menghindari segala bentuk pelanggaran meskipun dikemas dalam bentuk tradisi.

Wallahu a’lam

Sumber: Majalah Qonittah Edisi 29/Vol. 3/1437H – 2016M
Oleh: Al-Ustadz Syafi’i bin Shalih al-Idrus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *