ISTIQOMAH SETELAH RAMADHAN

📍🌹 Istiqomah Setelah Ramadhan 🌹📍

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah

✓ Sufyan bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu berkata,

قُلْتُ يَارَسُولَ اللهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًالَاأَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًابَعْدَكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَغَيْرُكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ فَاسْتَقِم

“Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, kabarkan kepadaku dalam Islam, tentang sebuah perkataan yang tidak kutanyakan kepada seorang pun sepeninggal engkau (dalam hadits Abu Usamah, ‘kecuali engkau’).”

‘Beliau shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab,
‘Katakan, aku beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian beristiqomahlah.”
(HR. Muslim no. 38)

☝🏻Hadits di atas merupakan dalil bahwa para hamba memiliki kewajiban sesudah ia beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk selalu tekun dan istiqomah menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini akan bisa dicapai dengan mengikuti jalan lurus (shirothol mustaqim), yang merupakan agama yang haq, tanpa ada penyimpangan darinya ke kanan atau ke kiri.

☀ Jika seorang muslim menjumpai bulan Ramadhan dan mengisi bulan tersebut dengan berpuasa dan shalat pada malamnya, dan juga ia memaksa dirinya untuk banyak melakukan amalan, maka ia hendaknya melanjutkan untuk selalu menjalankan keta’atan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu sepanjang waktunya (sesudah Ramadhan).

Inilah keadaan yang benar dari seorang hamba, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb-nya bulan adalah satu dan Dia selalu mengawasi dan menyaksikan para hamba sepanjang waktu.

✏ Sungguh, berupaya untuk istiqomah sesudah bulan Ramadhan dan memperbaiki kembali sikap dan amalan seseorang merupakan tanda yang besar bahwa orang tersebut telah mendapat faidah yang besar dari bulan Ramadhan dan menunjukkan kesungguhannya dalam menjalani keta’atan.

☝🏻 Semua itu merupakan tanda diterimanya amalan dan keberhasilan dalam beribadah di bulan Ramadhan.

✋🏻 Amalan seorang hamba tidaklah berakhir dengan selesainya bulan Ramadhan dan bergantinya bulan baru.
✅ Seorang hamba hendaknya selalu meneruskan dan meningkatkan amalannya sampai ia meninggal.

✓ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
الحجر :٩٩
“Sembahlah Rabb kalian sampai kalian yakin.”
(al-Hijr: 99)

√ Bila bulan Ramadhan berlalu, maka kita masih bisa mengamalkan puasa-puasa sunnah sepanjang tahun, Alhamdulillah.

√ Bila shalat malam di bulan Ramadhan telah berakhir, maka sesungguhnya sepanjang tahun adalah waktu yang bisa kita gunakan untuk shalat malam.

√ Bila zakat fitrah pun telah berlalu, maka kita masih bisa mengerjakan amalan zakat sebagai bentuk kepedulian kita (pada sesama) yang bisa dilakukan di luar Ramadhan.

√ Begitu pula dengan membaca al-Qur’an dan mentadaburi maknanya, juga bentuk amalan-amalan lainnya, yang bisa kita kerjakan sepanjang tahun (tidak hanya di bulan Ramadhan).

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan pahala yang besar bagi hamba-hamba-Nya atas amalan yang bermacam-macam yang bisa dilakukan, begitupun Dia memiliki tujuan-tujuan tertentu untuk para hamba-Nya dalam setiap amalan tersebut. Karena itu, semangat yang ada pada setiap muslim hendaknya tetap terpelihara dan tetap berlanjut dalam menjalani keta’atan kepada Rabb-Nya.

💦 Namun disayangkan, kita banyak menjumpai orang-orang yang bersemangat menjalankan berbagai macam ibadah di bulan Ramadhan semisal menjaga shalat lima waktu secara berjama’ah di masjid, banyak membaca al-Qur’an, bersedekah dan lainnya. Namun begitu Ramadhan usai, mereka pun berubah menjadi malas. Bahkan terkadang mereka meninggalkan salah satu kewajiban agama, diantaranya kewajiban shalat berjama’ah lebih khusus lagi sholat Subuh.

Bahkan lebih dari itu, mereka melakukan perbuatan yang haram semisal tidur di waktu shalat, mendatangi tempat hura-hura dan hiburan, datang ke taman-taman (tempat rekreasi), terkhusus di hari raya Idul Fitri.

Kita memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas berbagai kejelekan ini. Mereka telah meruntuhkan apa yang telah mereka bangun selama Ramadhan. Ini mengindikasikan sebuah kerugian (kegagalan). Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala keselamatan dan ‘afiyah.

☝🏻💦 Sungguh, tipe orang semacam ini merupakan contoh dari mereka yang melakukan taubat dan menjauhi perbuatan dosa sebagai sesuatu yang khusus dan terbatas hanya pada bulan Ramadhan saja.
Tak heran bila mereka berhenti melakukan amal kebaikan begitu Ramadhan berlalu. Ini berarti, mereka menjauhi perbuatan dosa adalah semata karena menghormati bulan Ramadhan dan bukan karena takut pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Betapa jeleknya orang-orang semacam ini yang tidak ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selain di bulan Ramadhan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin kesuksesan bagi hamba-Nya yang mau menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada hamba-hamba-Nya merupakan faidah yang besar. Dan ini merupakan bentuk rasa syukur hamba kepada Rabb-nya.

✓ Hal ini sebagaimana bisa kita lihat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
البقرة : ١٨٥
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
(QS. al-Baqoroh: 185)

⏱ Siapa saja yang mensyukuri nikmat karena mampu menjalankan ibadah puasa, ia akan mendapati dirinya dimudahkan dalam melanjutkan amalan-amalan kebaikan.

👉🏻 Akhlak seorang muslim yang baik adalah ia mau bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kemudahan yang dilimpahkan padanya hingga ia bisa menjalankan ibadah puasa dan shalat malam (tarawih). Keadaan dirinya sesudah Ramadhan adalah lebih baik dibanding sebelum Ramadhan. Ia menjadi lebih mudah untuk menjalani keta’atan, selalu bersemangat beramal kebaikan, dan bersegera dalam menjalankan kewajiban. Ini karena ia berhasil meraih manfaat yang besar dari lembaga pendidikan yang mulia (di bulan Ramadhan). Ia memiliki kekhawatiran bahwa ibadahnya selama bulan Ramadhan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menerima amal ibadah dari orang-orang yang bertakwa.

Para Salafush Shalih telah memberikan keteladanan yaitu mereka memiliki upaya yang sungguh-sungguh untuk menyempurnakan ibadah mereka, sesudahnya mereka merasa khawatir apakah ibadahnya diterima atau ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

✓ Telah diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,
“Hendaknya kita lebih memperhatikan apakah amalan kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dibanding amalan itu sendiri. Tidakkah kalian pernah mendengar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
المائدة: ٢٧
“Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”
(al-Maidah: 27)

✓ ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:
“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam tentang makna ayat:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
المؤمنون: ٦٠
“Dan mereka yang menafkahkan apa yang diberikan pada mereka, dalam keadaan hati mereka gemetar karena takut.”
(al-Mu’minuun: 60)

“Apakah mereka adalah para peminum khamr dan pencuri?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab:
“Bukan wahai putri ash-Shidiq. Namun mereka adalah orang-orang yang menjalankan puasa, shalat, dan bersedekah namun mereka khawatir amalan mereka tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan amal kebaikan dan mereka yang pertama mengerjakannya.”

📍Maka perhatikanlah, jangan sampai kita berbalik ke belakang setelah mendapat petunjuk atau menjadi tersesat setelah dibimbing. Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kesabaran dalam menjalani keta’atan kepada-Nya dan istiqomah di atasnya. Juga kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia memberi kita akhir yang baik dan berkenan menerima ibadah Ramadhan kita.

(Hadits ash-Shiyam: Ahkam wa Adab hal. 155-157)

Dikutip dari Rubrik Majlis Romadhon, Majalah Fiqih Islami Fawaid Edisi ke-7/II/1435 H/2014 Halaman 73-75.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *