KETENANGAN HATI, NIKMAT YANG HAKIKI

🌷 Ketenangan Hati, Nikmat yang Hakiki

🏡 Hidup tenteram, seakan hanyalah angan bagi sebagian orang. Bagaimana tidak, hari-hari mereka diisi dengan pekerjaan yang tiada henti. Tak jarang, waktu larut malampun kadang harus digunakan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Cobalah tengok sebentar, karena alasan apakah banyak manusia melakukannya. Bila kita gali jawaban mereka, ujung-ujungnya adalah bahwa mayoritas yang dicari adalah kenikmatan dan kesenangan hidup.

🏚 Namun, angan tidaklah sama dengan kenyataan. Ketentraman dan kesenangan tidak di dapat, namun kesempitan dan kesusahanlah yang senantiasa terbayang di depan kedua matanya.

🥀💰 Banyak dari pasangan hidup yang menjadikan harta sebagai patokan kebahagiaan. Banyak harta berarti banyak kebahagiaan, sedikit harta sedikit kebahagiaan.

💦 Akhir dari pendapat ini adalah baik suami maupun istri berupaya bekerja demi meraih uang. Lalu menitipkan buah hati mereka kepada orang lain.

👉🏻 Pembaca, seorang muslim haruslah memiliki pemikiran yang panjang. Tentang kehidupan yang dijalaninya, juga tentang kehidupan yang akan dijalaninya di negeri akhirat. Seorang muslim tidak memandang kehidupannya di dunia sebagai ujung angannya, hingga ia mati-matian mendapatkan dunia tanpa memikirkan akhirat. Namun, ia harus senantiasa menimbang kehidupan dunia dengan apa yang akan didapat di akhirat.

Apabila sebuah keluarga memiliki pandangan yang sama tentangnya, di mana mereka senantiasa menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup, maka akan baiklah kehidupan sebuah keluarga. Oleh karenanya sikap ini harus ditumbuhkan pula dalam keluarga. Dengannyalah mereka akan memperoleh ketentraman hati ini.

⛅ Ketentraman hakiki yang diidam-idamkan manusia, tengoklah sabda Rasulullaah صلى الله عليه وسلم

مَنْ كَانَتْ الدّنْيَا هَمَّهُ فَرّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَ هُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الآخِرَةُ نِيّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai keinginannya, maka Allah akan jadikan urusannya terceraiberai dan ia akan menjadikan kefakiran berada di hadapan kedua matanya, sedangkan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah dituliskan untuknya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatannya, maka Allah akan mengumpulkan perkaranya, dan menjadikan kecukupan dalam hatinya dan dunia akan datang kepada sedang dia merasa tidak butuh kepadanya.”
[H.R Ibnu Majah, dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah]

☝🏻 Perhatikanlah, betapa niatan amalan demi mendapat akhirat adalah sebab ketenangan dan pertolongan-Nya, walau mungkin ia adalah seorang fakir lagi membutuhkan.

📌 Sedangkan niatan mendapatkan dunia tanpa memedulikan akhirat adalah sebab kefakiran. Senantiasa kurang dan senantiasa tidak cukup. Sehingga seakan ia adalah orang yang paling butuh kepada dunia dan harta, betapapun kekayaan yang banyak telah ia peroleh. Lalu, ketenangan manakah yang akan didapatnya.

📍 Sungguh kepada orang seperti inilah berlaku hadis Rasulullah صلى الله عليه وسلم berikut ini :

لو كان لابن آدم واديان من مال لابتغى ثالثا ولا يملأ جوف ابن آدم إلا التراب

“Seandainya seorang anak Adam telah memiliki dua lembah harta, pasti ia akan mencari yang ketiga. Dan tidaklah akan memenuhi kerongkongan anak Adam kecuali tanah (yakni dengan kematian)”
[H.R Al Bukhari dari shahabat Abdullah bin Abbas]

🔘 MENANAMKAN MENTAL CINTA AKHIRAT

Suami adalah nahkoda atas perahu rumah tangganya. Bila ia telah tahu bahwa dunia hanyalah sebagai wasilah mendapatkan negeri akhirat, maka janganlah ia berpangku tangan tanpa upaya mendidik keluarganya. Agar kapal rumah tangganya tidak karam akibat badai dan ombak yang menggulung dahsyat, hendaknya dia pandai-pandai menyetir kapal dan mengendalikannya.

Seorang suami harus pandai-pandai menanamkan sikap cinta akhirat kepada keluarganya.

Seorang istri yang memahami hakikat kehidupan di dunia, akan lebih pandai bersyukur dengan pemberian suami, dan akan dapat bersabar dengan segala kekurangan dalam kehidupan rumah tangganya. Sehingga rumahtangga tersebut senantiasa dapat berlayar dengan baik, walau di uji dengan badai dan ombak yang besar.

👑 Bukankah wanita seperti inilah wanita yang terpuji dan wanita yang baik. Ia adalah seorang pendamping yang akan senantiasa menyokong sang suami untuk rida Allah. Bukan sebagai orang dalam yang senantiasa membisiki pikiran buruk untuk suaminya.

📍 Perhatikanlah bimbingan Nabiyullah Ibrahim kepada putranya Nabi Ismail saat beliau mengunjungi Nabi Ismail, dan mendapatkan istri anaknya, sebagai wanita yang banyak mengeluh dan mencela hasil jerih payah suaminya. Beliau pun berpesan untuk anaknya,

غَيِّرَ عَتَبَةَبابِكَ قَالَ ذَاكِ أَبِي وَقَدْ أَ مَرَ نِي أَنْ أُفَارِ قَكِ الْحَقِي بِأَهْلِكِ فَطَلّقَهَا

“Gantilah palang pintumu”, maka ia (Ismail) berkata (kepada istri tersebut); “Itu adalah ayahku, ia memerintahkan untuk menceraikanmu. Pulanglah engkau kepada keluargamu.”
[H.R Al Bukhari]

👉🏻🌷 Oleh karenanya, istri yang baik akan senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan di antara hal yang bisa menumbukan jiwa syukur dan sabar adalah senantiasa ditegakkannya nasihat-menasihati antara suami dan istri. Wallahu a’lam.

[Ustadz Hammam]
Sumber : Majalah Tashfiyah Edisi 85 VOL. 08 1440H/2019M (hal. 109-112)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *