TIPE TEMANMU, SEPERTI APA?

🎀🔘🎀🔘🎀🔘🎀🔘🎀🔘🎀🔘🎀

🤝🏻 Tipe Temanmu, Seperti Apa?

Memiliki teman karib yang dengannya kamu bisa mencurahkan isi hati tentu sangat menyenangkan. Saat sedih dan dalam masalah, bisa saling menguatkan. Saat senang, bisa saling menyelamati dan bahagia bersama. Tapi, cukup kah saling berteman hanya untuk hal itu saja?

Dalam Islam, pertemanan antara sesama Muslim merupakan hubungan yang sangat penting. Hal ini karena agama seseorang bergantung dari dengan siapa dia berteman karib. Seperti permisalan yang dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Permisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang jelek seperti pembawa (penjual) misk dan peniup tungku (pandai besi). (Duduk dengan) pembawa minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, bisa jadi engkau akan membeli darinya, atau bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu (karena debu bara yang berterbangan), dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tidak sedap.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

☝🏼 Begitulah permisalan antara teman karib yang shalih dan yang buruk.

Jika teman karibmu orang yang shalih maka keshalihannya bisa jadi akan menular padamu. Atau setidaknya, dia tidak akan zhalim padamu.

🥀 Namun jika teman karibmu adalah teman yang buruk, bukan saja ia bisa menularkan perilaku buruknya, bahkan ia bisa berbuat curang terhadapmu.

⚖ Akhirnya, semoga kita bisa lebih bijaksana dalam memilih teman karib. Sehingga tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang gigit jari di kemudian hari. Seperti yang digambarkan Allah subhanahu wata’ala dalam Surat al-Furqan ayat 27 – 29:

وَيَوْمَ يَعُضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يَلَيْتَنِيْ اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا (٦٧)٠ يَوَيْلَتَى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا (٦٨)٠ لَقَدْ أَضَلَّنِيْ عَنْ الذِّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَاءَنِيْ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْاِنْسَانِ خَذُوْلا (٠٦٩

“Dan pada hari itu orang zhalim menggigit jari mereka dan mengatakan, ‘Wahai, seandainya aku berjalan bersama Rasul. Celakalah aku, andai aku tidak menjadikan fulan sebagai sahabat karib. Dia telah menyesatkanku dari peringatan yakni (agama islam) setelah datang kepadaku.’ Dan sesungguhnya syaitan benar-benar meninggalkan manusia (ketika manusia telah terjerumus ke dalam jebakan mereka).”

Wallahu a’lam bishshawab
(admin akhwat.net)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *