SAAT ANGIN BERTIUP KENCANG

Saat Angin Bertiup Kencang

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, beliau berkata, “Ketika angin bertiup kencang, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan apa yang ada padanya, dan kebaikan yang ada di bawahnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan apa yang ada padanya, dan keburukan apa yang ada di bawahnya.”
(HR. Muslim no. 2082, “Kitab Shalatil Istisqa”)

Di antara hikmah Allah subhanahu wata’ala menciptakan angin adalah sebagai pembawa kabar gembira akan kedatangan rahmat Allah subhanahu wata’ala berupa turunnya air hujan. Maha suci Allah yang telah menciptakan, mengatur, dan mengendalikannya.

Akan tetapi terkadang angin bertiup kencang hingga menimbulkan rasa takut. Namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sang teladan mulia, melarang kita mencela angin yang bertiup kencang dan mengajarkan kepada kita doa tersebut.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullaah berkata, “Tidak pantas bagi seorang pun mencela angin, karena angin adalah makhluk Allah yang taat dan salah satu tentara-Nya. Allah menjadikan angin itu sebagai rahmat dan azab jika Dia berkehendak.”

Doa di atas mengandung permintaan atas tiga kebaikan, yaitu meminta kebaikan angin itu, kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan apa yang di bawahnya. Di antara kebaikan angin adalah menyejukkan manusia di kala panas terik, menyegarkan dengan tiup sepoinya, dan mengusir bau tak sedap. Kebaikan yang ada padanya berupa cucuran air hujan yang bermanfaat bagi makhluk-Nya. Sedangkan kebaikan apa yang di bawahnya misalnya awan yang datang terbawa angin, yang dari awan tersebut turunlah hujan yang bermanfaat.

Doa di atas juga mengandung permohonan akan perlindungan dari keburukan-keburukan yang merupakan lawan dari kebaikan-kebaikan tersebut.
(Syarah Hisnul Muslim)

Dikutip dari Majalah Qonitah edisi 02/ vol. 01/ 1434 H – 2013 M.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *