ANDAI ANDA TAHU TUGAS KAMI

⏱🕯⏱🕯⏱🕯⏱🕯⏱🕯⏱

🧹🧻 *ANDAI ANDA TAHU TUGAS KAMI*

🏘 Berbicara tentang tugas seorang ibu rumah tangga, kita akan melihat pekerjaan berat dan melelahkan. Pekerjaan mengurus rumah tangga, boleh dikata tidak kalah melelahkan dibandingkan pekerjaan para suami di luar rumah.

🌤🌒 Bisa kita bayangkan, semenjak bangun pagi hingga waktu menjelang tidur malam, seakan tidak ada habis dan selesainya pekerjaan itu. Memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, menyetrika, belanja, melayani segala kebutuhan sang suami sekaligus mengurusi pola tingkah anak-anaknya. Bahkan sebagian mereka hampir-hampir tidak bisa shalat dengan khusyu’ mengingat Rabbnya dikarenakan sempit nya kesempatan istirahat.

✔ Oleh karena itu kedudukan seorang istri sekaligus ibu dalam sebuah keluarga sangat penting dalam keberlangsungan kehidupan keluarga.

IBU RUMAH TANGGA, PAHLAWAN KELUARGA

Banyak wanita meremehkan peran seorang ibu rumah tangga. Di mata mereka, pekerjaan itu mencerminkan kerendahan dan keterbelakangan. Mereka justru bangga ketika memiliki status ‘wanita karir’, sebagai wanita yang bekerja di luar rumah. Padahal, berjuang melaksanakan pekerjaan dalam keluarga adalah unsur pendukung yang kuat untuk suksesnya sebuah keluarga.

Kita tentu pernah mendengar deretan nama-nama imam yang terkenal dalam islam; Imam Asy Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, mereka adalah para imam islam yang tinggi kedudukannya di mata kaum muslimin.
•> Ternyata mereka tumbuh dalam keadaan yatim, di bawah asuhan dan didikan ibu-ibu mereka.
•> Ternyata peranan seorang ibu rumah tangga, dapat melahirkan figur para imam bagi muslimin, hebat bukan?!

Kita juga bisa melihat figur pemimpin wanita surga, Fathimah binti Rasulillah. Beliau adalah wanita utama, yang dengan tangannyalah tumbuh dan besar sosok-sosok tauladan semisal Al Hasan Al Husein. Beliau juga berperan penuh dalam kehidupan rumah tangga, mengurusi pekerjaan rumah. Sampai-sampai, dikarenakan beratnya pekerjaan tersebut, beliau pernah meminta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم seorang budak yang bisa meringankan tugas beliau.

قَالَ عَلي رضي الله عَنْهُ أَنَّ فَاطمَة عَلَيْهَا السّلام شكُتُ مَاتَلْقَى مِن أثرالرّحَى فَأَتَى النّبيّ صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سبي، فَانَطَلَقت فَلَم تحجده ، فَوَجدت عَائشة، فَأَخَبَرَتْهَا ، فَلَمَّا جَاء النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ عَائشةُ بِمَجئ فَاطِمَةَ فَجَاء النبىّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا ، وَقَدْ اخَذْنَا مَضاجِعَنَا ، فَذَهَبْتُ لاِ قُوْمَ ، فَقَالَ : عَلَى مَكَانِكُمَا ، فَقَعَدَ بَيْنَنَا ، حَتَّى وَجَدْتُ بُرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِى ، وَقَالَ : ألا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمّا سَأَلْتُمَانى؟! إذا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، تُكَبِّرَا أَرْبَعًا وثلاثين، وَتُسَبِّحا ثلاثًا وثلاثين، وَتَحْمَدا ثلاثةً وثلاثين، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

“Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangi Nabi صلى الله عليه وسلم maka Fathimah pergi ke rumah Nabi صلى الله عليه وسلم , namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi صلى الله عليه وسلم tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata.
‘Tetaplah di tempatmu’.
Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata.
“Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah 34 kali, bertasbihlah 33 kali dan bertahmidlah 33 kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu.”
(H.R. Al Bukhari dan Muslim)

🏡 Menjadi ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan yang terhormat, tak layak untuk direndahkan. Deretan panjang para ibu rumah tangga yang disebut memiliki peran agung dalam membentuk dan mendidik anak Islam, cukup menunjukkan bahwa ibu rumah tangga, bukan sosok yang sepele. Sehingga para wanita yang bertugas mengurus pekerjaan rumah, adalah sosok pahlawan yang berandil besar dalam sebuah keluarga.

🧳 PARA SUAMI, BERTERIMA KASIHLAH KEPADA ISTRI KALIAN

●> Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak bersyukur kepada Allah, seseorang yang tidak bersyukur kepada manusia.”

[dishahihkan Al Albani رحمه الله dalam As shahihah]

Seseorang yang tabiatnya tidak bisa bersyukur/ berterimakasih kepada manusia atas kebaikan mereka, maka ia tidak bisa pula berterimakasih kepada Allah سبحانه وتعالى.
Di antara penyebabnya adalah jeleknya sikap kaku dan keras kepada setiap yang berbuat baik kepadanya.

Sehingga, dipahami dari hadits ini bahwa Allah سبحانه وتعالى suka kepada hamba-Nya yang dapat berterima kasih sekaligus membalas kebaikan orang dengan kebaikan yang semisal atau lebih baik, sebagaimana dalam hadits:

و مَن صَنَعْ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻣَﻌْﺮُﻭﻓًﺎ ﻓَﻜَﺎﻓِﺌُﻮﻩُ، ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﺠِﺪُﻭﺍ ﻣَﺎ ﺗُﻜَﺎﻓِﺌُﻮﻧَﻪُ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﺍ ﻟَﻪُ ﺣَﺘَّﻰ تَعلَمُوا ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻗَﺪْ ﻛَﺎﻓَﺄْﺗُﻤُﻮﻩُ.

“Barang siapa yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah (dengan semisal), apabila engkau tidak mendapat sesuatu yang bisa untuk membalasnya, maka doakanlah kebaikan untuknya sehingga engkau menyangka bahwa (doa tersebut) telah membalasinya.”
[H.R. Ahmad, Abu Dawud, An Nasaai dishahihkan Al Albani رحمه الله dalam shahihul jami’ndak dari shahabat Abdullah bin Umar]

☝🏻 Para suami, wajib untuk bersyukur dan berterima kasih kepada istri-istri mereka. Sebab lewat tangan istri merekalah, hidupkan rumah tangga dapat berjalan dengan baik. Akuilah bahwa dengan bantuan sang istri, ia dapat bekerja dengan lancar di luar rumah. Tanpa dibantu sang istri, pasti pekerjaan seorang suami akan menjadi timpang tidak sempurna hasilnya.

✋❌ Oleh karenanya, Janganlah seorang suami meremehkan pekerjaan sang istri, yang menurutnya adalah pekerjaan ringan dan gampang. Ya ringan dan gampang; mencuci, memasak, membersihkan rumah dan lainnya, memang pekerjaan yang mudah. Namun, pekerjaan tersebut sifatnya terus dan tak berhenti. Seolah-olah pekerjaan ini selesai, datang pekerjaan selanjutnya. Terkadang muncul ucapan seorang suami yang berbentuk ejekan atau peremehan tugas para istri, hingga sampai tindakan mencemooh istri mereka sendiri. Ini adalah sikap kaku dan jelek yang muncul dari seorang suami terhadap istrinya. Dengan inilah, seorang suami tidak bisa dikatakan mensyukuri usaha istrinya.

🧹🧺🧻 Barangkali sang suami yang suka meremehkan pekerjaan rumah tangga ini, butuh untuk mencoba melakukan pekerjaan istrinya. Pasti ia akan tahu beratnya pekerjaan mereka. Ya… seandainya para suami tahu tugas istri-istri mereka.

🛍 MEMBANTU TUGAS ISTRI, AMALAN SUAMI YANG MULIA

Membantu pekerjaan istri di rumah termasuk perbuatan baik. Amalan ini juga menunjukkan keluhuran akhlak suami. Dan ini adalah bentuk kesyukuran suami kepada istrinya.

Lihatlah kepada junjungan kita Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam bergaul kepada istri-istri beliau. Sehingga istri-istri beliaupun mengakui akan ketawadhuan Rasulullah صلى الله عليه وسلم di hadapan para istrinya.

✏ Dari sahabat shahabat Al Aswad, beliau mengatakan; ‘aku bertanya kepada Aisyah رضي الله عنها tentang apa yang dilakukan Rasulullah ketika berada di tengah keluarga beliau. Maka jawaban Aisyah رضي الله عنها :

ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻲ ﻣِﻬْﻨَﺔِ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺣَﻀَﺮَﺕِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ قَامَ إِلَى ااصَّلاَ ةِ

“Rasulullah صلى الله عليه وسلم biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu salat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.”
[H.R. Al Bukhari, no. 6039]

Inilah diantara kebiasaan (sunnah) orang-orang saleh. Rasul sendiri juga telah menegaskan dalam sebuah hadis:

خَيْرُكُم ْخَيْرُكُم ْلِأَهْلِه ِوَأَنَاخَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

(“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. Aku sendiri adalah orang yang paling baik pada keluargaku.”*
[H.R. Tirmidzi, no. 3895]

Jadi suami yang bisa berbuat baik di hadapan istrinya, ia akan lebih bisa berbuat baik pula di hadapan orang. Hal ini dikarenakan istri secara asal berada dalam kuasa seorang suami. Istri diperintahkan untuk tunduk dan taat kepada suaminya.

Nah, apabila seorang tidak semena-mena terhadap yang di bawahanya (padahal ia mampu melakukannya), dan justru berbuat baik terhadap mereka, maka ia akan lebih bisa berbuat baik kepada orang lain yang bukan bawahannya dalam hal kedudukan.

✏ Nah, para suami, contohlah Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

[Ustadz Hammam]

Sumber: Majalah Tashfiyah Vol.07 1440H-2018M Edisi 81

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *