BERCERMIN PADA BUAH HATI

BERCERMIN PADA BUAH HATI

“Ayo mainannya diberesin!”
kalimat yang mungkin sering terucap oleh para orang tua di rumah.

Setelah anak- anak bermain, tak jarang ruangan menjadi berantakan. Mainan menghiasi hampir setiap sudut rumah. Dengan alasan capek atau ngantuk, mereka tinggalkan begitu saja.

Di lain waktu,
“Ayo bahasanya yang lembut! Jangan marah-marah terus.”
Kalimat yang terdengar dari orang tua, sedang menegur kakak yang marah terhadap adiknya. Karena marah, suara keras, dan bentakan kakak sampai membuat adiknya ketakutan. Akhirnya menangis.

Pembaca, disadari atau tidak, melihat dan menegur orang lain lebih mudah daripada melihat dan menegur diri sendiri.

Kesalahan orang lain sangat jelas tampak bagi kita, sementara kesalahan sendiri seringnya tidak kita sadari. Sebagaimana kata pepatah, gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.

Tapi bila kita menginginkan kebaikan bagi diri kita, tentunya kita akan berusaha melihat dan mencari bagaimana sikap kita sesungguhnya. Baik, atau buruk. Sehingga perbaikan terus senantiasa kita usahakan, tentunya dengan meminta pertolongan dari Allah سبحانه و تعالى Dzat yang di tangan-Nyalah hati para hamba.

Dalam konteks mendidik anak, mungkin sering kita dapati ‘kesalahan-kesalahan’ yang dilakukan mereka. Walaupun tentunya tidak bisa kita katakan mutlak sebagai kesalahan, karena mereka lakukan itu toh di saat akal mereka belum sempurna. Belum betul-betul memahami mana sikap yang benar dan mana yang salah.

Nah, di sisi lain, bisa jadi kesalahan tersebut mereka dapatkan karena mencontoh sikap kita. Bila disadari ternyata kadang orang tuapun tidak segera membereskan barang-barang setelah bekerja. Ya, kalau ditanya, mungkin karena capek atau ngantuk. Walaupun benar- benar capek atau benar-benar, namun anak sebatas melihat bahwa ternyata barang-barang tidak segera dikembalikan ke tempatnya.

Demikian pula dalam bahasa yang digunakan anak. Bisa jadi, tanpa kesadaran penuh, orang tuapun sering membentak kakak, tidak berkata lembut dan sebagainya. Sehingga demikian pula sikap yang kakak terapkan saat menegur kesalahan adiknya. Yah, bisa dibilang buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Walaupun ini bukanlah sebagai patokan. Karena terkadang dari orang tua yang saleh, Allah lahirkan anak yang durhaka.
Sebagaimana Nabi Nuh عليه السلام memiliki anak yang durhaka.

Bisa juga dari orang tua yang musyrik, terlahir anak yang saleh. Sebagaimana Nabi Ibrahim عليه السلام terlahir dari Azar yang musyrik.

Semoga Allah سبحانه وتعالى jadikan kita, orang tua kita serta anak keturunan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh, amin.

Namun ini sebagai renungan bagi saya, dan semoga bermanfaat bagi para orang tua. Yakni tak jarang kita melihat kekeliruan anak bila kita telusuri ternyata kita pun juga bersikap demikian. Sehingga kita semestinya berusaha menjadi benih yang baik. Yang dengannya kita bisa mengharapkan tanaman yang tumbuh adalah tanaman yang baik.

Demikian pula buah yang dihasilkan pun adalah buah yang baik, yang senantiasa memberikan manfaat bagi yang lainnya. Allahu a’lam bish shawab.

[Ustadzah Ummu Umar]

Dikutip dari Majalah Tashfiyah VOL.06 1439 H-2017 M EDISI 72 (hal. 110 – 112)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *