WIRID RUTIN PENTING SEBAGAI PRRLINDUNGAN DARI PENYAKIT (6)

Wirid Rutin Harian Sebagai Perlindungan dari Penyakit

Tuntunan Islam Menghadapi Wabah Virus Corona & Lainnya (Bagian 6️⃣)

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Pada artikel yang lalu, telah kita bahas beberapa doa yang mengandung permohonan perlindungan dari berbagai penyakit dan keburukan. Selain memperbanyak doa-doa tersebut pada waktu-waktu yang mustajab dan di banyak waktu kita, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengajarkan beberapa zikir dan doa yang dibaca secara rutin setiap hari, yang bermanfaat sebagai perlindungan dari berbagai penyakit dan keburukan.

☝🏻👉🏻 Tak lupa kami mengingatkan, sebagaimana telah diulang-ulang pada artikel sebelumnya, hendaknya ketika membaca zikir-zikir dan doa-doa disertai dengan kalbu yang khusyuk dan memahami maknanya.

⬇️⬇️ Di antara bacaan-bacaan yang sebaiknya jangan sampai terlupa untuk dibaca adalah:

1️⃣A) Membaca Ayat Kursi Sebanyak Satu Kali Ketika Pagi dan Sore Hari.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ  لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ  يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada ilah (sembahan) yang haq (benar) kecuali Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Milik-Nya segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin dari-Nya. Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu-Nya melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.”
(al-Baqarah: 255)

●> Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan dalam sunnah taqririyah beliau (dalam konteks kisah ini berupa pembenaran) ketika jin berkata kepada Ubay bin Ka’ab tentang Ayat Kursi,

مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ. فلَمَّا أَصْبَحَ أتَى رَسُولُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: صَدَقَ الْخَبِيثُ.

“Barang siapa membacanya (ayat kursi) pada pagi hari, dia akan dilindungi dari (gangguan) kami (para jin) sampai sore. Barang siapa membacanya pada sore hari, akan dilindungi dari (gangguan) kami (para jin) hingga pagi.”

Esoknya, Ubay mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seraya menyebutkan kisahnya semalam, maka beliau besabda, “Makhluk khabis itu telah benar.” 

(Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 662)

1️⃣B). Selain itu Ayat kursi Juga Dusyariatkan Dibaca Setiap Selesai Shalat Fardu.

●> Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ

“Barang siapa membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya untukmasuk surga kecuali kematian.”

(HR. an-Nasai dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah no. 182, dari sahabat Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu anhu. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Muqbil dalam ash-Shahih al-Musnad Mimma Laisa fi ash-Shahihain jilid 1 hlm. 408 no. 478)

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menceritakan,
“Sampai berita kepadaku bahwa guru kami, Abul Abbas Ibnu Taimiyah (Syaikhul Islam) mengatakan,  ‘Aku tidak pernah meninggalkan membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).’”
(Zad al-Ma’ad1/304)

1️⃣C) Ayat Kursi Juga Disyariatkan Dibaca Setiap Akan Tidur.

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sunnah taqririyah beliau (dalam konteks kisah ini berupa pembenaran) ketika setan berkata kepada Abu Hurairah radhiyallahu anhu,

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، ذَاكَ شَيْطَانٌ

“Apabila kamu menuju pembaringanmu, bacalah Ayat Kursi; niscaya kamu akan senantiasa bersama penjaga dari Allah dan setan tidak akan mendekatimu sampai datang waktu pagi.”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Dia benar meski dia adalah seorang pendusta. Dia adalah setan.” 
(HR. al-Bukhari No. 3275)

📍Kesimpulan:
•••••••••••••••••••••
Ayat kursi disyariatkan dibaca setiap pagi dan sore, setiap selesai shalat waijb, dan sebelum tidur; dengan keutamaan masing-masing sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits di atas.

2️⃣. Membaca Surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas Sebanyak Tiga kali Ketika Pagi dan Sore Hari.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۞ اللَّهُ الصَّمَدُ ۞ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۞ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ۞
“Katakanlah, “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۞ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ۞ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ۞ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ۞ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ۞

“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai waktu subuh, dari kejahatan makhluk-makhluk-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki ketika dia mendengki.”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۞ مَلِكِ النَّاسِ ۞ إِلَٰهِ النَّاسِ ۞ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ۞ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ۞ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ۞

“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia, dari kalangan jin dan manusia.”

●> Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

قُلْ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} وَالمُعَوِّذَتَيْنِ حَينِ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

“Bacalah surah al-Ikhlas dan al-mu’awwidzatain (surah al-Falaq dan surah an-Nas) tiga kali ketika sore dan tiga kali ketika pagi; niscaya akan mencukupimu dari segala sesuatu.”
(HR. Abu Dawud no. 5082. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 5082)

Makna “ketiga surat tersebut akan mencukupimu dari segala sesuatu” adalah melindungimu dari segala macam keburukan (termasuk penyakit, -pent.)
(Lihat ‘Aunul Ma’bud ‘ala Syarhi Sunan Abi Dawud hlm. 2317)

3️⃣. Ketika Pagi dan Petang Hari Membaca Doa Ini Sebanyak Tiga Kali:

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

BISMILLAHIL LADZII LAA YADHURRU MA’AS MIHII SYAI`UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMAA’I WA HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM.

“Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit yang bisa memudaratkan, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

●> Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَن قَالَ: بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ؛ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُصْبِحَ، ومَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُمْسِيَ

“Barang siapa mengucapkan BISMILLAHIL LADZII LAA YADHURRU MA’AS MIHII SYAI`UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMAA’I WA HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM tiga kali (ketika sore), tidak akan menimpanya wabah atau bencana hingga pagi. Barang siapa mengucapkannya ketika pagi, tidak akan menimpanya wabah atau bencana hingga sore.” 
(HR. Abu Dawud no. 5088, dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Muqbil dalam ash-Shahih al-Musnad Mimma Laisa fi ash-Shahihain jilid 2 hlm. 10 no. 910)

Suatu ketika, salah seorang perawi hadits yang bernama Aban bin Utsman bin Affan bin Abil ‘Ash bin Umayah al-Qurasyi al-Umawi (putra Utsman bin Affan) tiba-tiba terkena suatu penyakit yang menyebabkan lumpuh separuh badan. Salah seorang yang pernah mendengar hadits di atas dari Aban bin Utsman melihat Aban dengan pandangan keheranan.

Mengetahui yang demikian, Aban menjelaskan,
“Mengapa engkau melihatku (dengan pandangan seperti itu)? Sungguh, demi Allah, aku tidaklah berdusta atas nama Utsman bin Affan (yang menyampaikan hadits tersebut kepada Aban). Demikian pula Utsman sekali-kali tidak bedusta atas nama Nabi. Akan tetapi, (penyakit) yang menimpaku ini karena aku diliputi amarah (akibat sesuatu) sehingga membuatku lupa mengucapkan doa tersebut.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *