SEGENGGAM RINDU DAN ASA YANG TERTUNDA

Segenggam Rindu dan Asa yang Tertunda

“Tidak ada seorang muslim pun, kecuali rindu melihat Ka’bah dan thawaf mengelilinginya. Oleh karena itu, manusia menempuh perjalanan menuju Ka’bah dari segala arah dan penjuru.” (Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir al-Qur`an al-‘Azhim, 5/414)

Hati manakah yang tak merindu saat lantunan talbiyah menggema dari ribuan jama’ah haji di Tanah Suci?

Mata manakah yang tak meneteskan rintik-rintik pilu saat membayangkan kenikmatan wukuf di Padang Arafah?

Sungguh, hati yang beriman kepada Allah, hati yang merindu pada-Nya, dan jiwa-jiwa kaum muslimin tak akan pernah hampa dari besarnya kerinduan akan Tanah Suci.

Harapan untuk menyempurnakan Rukun Islam yang terakhir akan selalu mengalir bersama napas yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya di Hari Akhir nanti.

Tahun 1441 Hijriah atau 2020 Masehi ini adalah tahun yang penuh ujian, tahun yang teramat memilukan bagi kita semua. Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala hikmah-Nya menakdirkan kita menjadi bagian dari kaum yang menjadi saksi atas musibah pandemi yang mengharuskan langkah kaum muslimin di Indonesia tertahan dari menunaikan ibadah haji. Kita berharap semoga Allah Ta’ala segera mengangkat wabah ini dan menggantikannya dengan kehidupan yang lebih baik, tentunya dengan harapan semakin banyak manusia-manusia yang terlahir kembali imannya, lebih bersungguh-sungguh menyucikan dirinya dengan kembali pada jalan-Nya, dan semakin jauh dari kesombongan pada-Nya dengan beragam kemaksiatan.

Perkara menunaikan ibadah haji bukanlah semata-mata tentang banyaknya rupiah di saku kita. Bukan pula tentang dekatnya tempat tinggal kita dengan Ka’bah. Namun, berhaji dengan haji yang mabrur adalah semata-mata keutamaan dan anugerah besar dari Allah Ta’ala.

Betapa banyak kaum muslimin yang berharta, akan tetapi berpulang kepada-Nya dalam keadaan belum sama sekali menginjak Makkah? Betapa tak sedikit jama’ah yang telah selesai menunaikan ibadah haji namun kembali dengan setitik ‘ujub di hati. Bahkan, tak semua yang telah menyempurnakan Rukun Islam yang kelima ini mampu pula menjaganya dengan kesempurnaan akhlak terhadap sesama. Bahkan tak sedikit yang merasa kecewa saat ada yang menyapa tanpa sebutan Haji di depan namanya.Nas-alullaha as salaamah wal ‘aafiyah.

Sungguh, tahun ini adalah tahun yang sangat tepat untuk kita warnai dengan muhasabah. Sebagaimana yang diingatkan al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,
“Menyebarnya berbagai penyakit adalah masanya bagi orang-orang yang berakal untuk:
√ Memperbaiki amalan-amalan yang kurang dan membenahi kesalahan-kesalahannya, jika dia termasuk orang yang banyak melakukan kesalahan.
√ Semakin menambah amalan-amalan ketaatan, jika dia bukan termasuk orang yang banyak melakukan kesalahan.”
[Al-Funûn Li ibn ‘Aqîl, (1/413)]

Maka, untuk benih-benih rindu akan Tanah Suci yang tumbuh kian subur di hati, untuk bunga-bunga asa yang belum bisa mekar di tahun ini, semoga tak menyurutkan baik sangka kita kepada-Nya, tidak mengurangi sedikit pun keimanan kita pada takdir-Nya. Arahkan niat baik yang tertahan hari ini agar selalu tertuju ikhlas karena-Nya. Semoga hal itu akan menambah kekhusyuan saat kelak Allah Ta’ala mengizinkan langkah kita untuk menapak Tanah Haram.

Arahkan rasa sedih di hati dengan kembali merenungi firman Allah Ta’ala,

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Hiburlah segala rasa sendu dengan terus mengokohkan niat yang ikhlas kepada-Nya seraya menghadirkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dalam hati kita dengan penuh keimanan.

“Barang siapa yang telah bertekad hendak melakukan satu amalan kebaikan, akan tetapi kemudian ia terhalangi dari mengamalkannya, maka tercatat untuknya satu kebaikan. Adapun jika ia benar melakukannya, maka tercatat untuknya 10 kebaikan sampai 700 kebaikan.” [HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Pupuk semua kerinduan akan Baitullah dengan amalan shalih sebagaimana yang dituntunkan Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah. Beliau rahimahullah berkata,

مَنْ لَمْ يَسْتَطِعِ الْوُقُوفَ بِعَرَفَة فَلْيَقِفْ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ الَّذِي عَرَفَهْ.

“Siapa yang belum mampu untuk wukuf di Arafah, hendaknya dia wukuf (berhenti) pada batasan Allah yang dia ketahui

وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعِ الْمَبِيْتَ بِمُزْدَلِفَةَ فَلْيَبِتْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ لِيُقَرِّبَهُ وَيُُزْلِفَه.

Siapa yang belum mampu bermalam di Muzdalifah, hendaknya dia bermalam pada ketaatan kepada Allah untuk mendekatkan dirinya

وَمَنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى أَنْ يَذْبَحَ هَدْيَهُ بِمِنىً فَلْيَذْبَحْ هَوَاهُ لِيَبْلُغَ بِهِ المُنَى.

Siapa yang belum mampu menyembelih hewan kurbannya di Mina, hendaknya dia menyembelih hawa nafsunya agar sampai kepada Muna (tujuannya)

وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ الوُصُوْلُ إِلَى الْبَيْتِ لِأَنَّهُ مِنْهُ بَعِيْدٌ فَلْيَقْصِدْ رَبَّ البَيْتِ فَإِنَّهُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيد.

Siapa yang belum mampu sampai ke Baitullah karena jauh, hendaknya dia menuju kepada Rabb Baitullah, karena Dia lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Semoga ujian ini kian menambah keimanan kita kepada takdir-Nya, semakin menguatkan hati kita untuk lebih erat menggenggam firman-Nya,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (al-Fatihah: 5)

Sehingga dalam kondisi apa pun, baik saat lapang maupun sempit, dalam keadaan aman ataupun terjepit, senang atau sedih, tak menggeser semangat kita untuk terus beribadah dan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *