ANUGERAH YANG DINANTIKAN

Sebulan, dua bulan, setahun….menunggu dan terus menunggu kehadirannya. Semakin lama ditunggu semakin gelisah dan sesak dalam pikiran. Sudah sekian lama usia pernikahan, tak jua Allah mengaruniai anak. Satu demi satu uban mulai muncul dari kulit kepala, menunjukkan bahwa usia semakin dekat dengan masa tua. Selama itulah harapan datangnya anak terus digantungkan.

Dalam rentang waktu yang lama, Nabi Zakaria tidak putus asa. Tidak bosan-bosannya beliau menengadahkan tangan, meminta Allah agar doanya dikabulkan. Ya, meminta seorang anak yang saleh. Beliau tahu, Allah sedang mengujinya. Maka, tiada jalan keluar dari ujian-Nya, kecuali milik-Nya.

Memang, mendapat anak adalah salah satu nikmat yang sangat diharapkan. Anak saleh merupakan rezeki Allah yang begitu istimewa. Manfaat anak yang saleh akan dirasakan orang tua mereka di dunia dan akhirat mereka. Anak saleh tidaklah sama dengan rezeki berupa makanan, tempat tinggal atau nikmat lainnya. Penyambung estafet dakwah, yang menolong dan membantu saat tua, atau yang mendoakan orang tua setelah meninggal. Oleh karena itu, Nabi Zakaria sangat berharap agar Allah mengabulkan doa beliau.

Demikianlah sikap yang benar saat seorang hamba mendapat ujian dari-Nya. Allah sebutkan doa beliau ini dalam beberapa ayat dalam Al Quran.

Allah berfirman:

وَزَكَرِيَّآاِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Rabbnya, “Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.” [ Q.S. Anbiya: 89 ]

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهٗ زَكَرِيَّآ (٢)
اِذْ نَادٰى رَبَّهُ نِدَاۤءً خَفِيًّا (٣)
قَالَ رَبِّ إِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا (٤)
وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا (٥)
يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (٦)

“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Rabbmu kepada hamba-Nya, Zakaria.
(Yaitu) ketika dia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut.
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Rabbku, sungguh (semua) tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Rabbku.
Dan sungguh, aku khawatir terhadap (mawali) keluarga dekat sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.
Yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub, dan jadikanlah dia, ya Rabbku, seorang yang diridhai.” [ Q.S. Maryam : 2-6 ]

NABI صَلَى اْللّٰهُ عَلَيْه وَسَلَم PUN DIUJI
Dunia ini adalah negeri ujian. Allah tetapkan ujian itu bagi semua hamba-Nya tanpa terkecuali. Sebagian orang, Allah uji dengan ujian yang ringan sesuai dengan kadar keimanannya. Sebagian lagi Allah uji dengan ujian yang berat, juga karena kuatnya keimanannya. Para nabi pun Allah uji. Bahkan ujian mereka adalah ujian-ujian yang berat sesuai keimanan mereka.
Nabi Zakaria pun diuji. Sejak menikah, Allah tak jua memberi anak kepada beliau. Untaian doa selalu beliau panjatkan, tak bosan dan tak henti. Kepada Yang Maha Pemurah, beliau meminta.
Panjang waktu penantian adalah sebuah ujian sulit, apalagi faktor-faktor pendorong terwujudnya harapan semakin melemah. Bagaimana perasaan kita saat mengharap hujan deras di musim kemarau?
Seperti inilah rasanya saat mengharap anak, sedangkan sang istri mandul dan umur pun telah renta. Dua faktor yang membuat orang bisa berputus asa untuk berharap terwujudnya anak. Namun tidak dengan Nabi Zakaria.

Dia (Zakaria) berkata, “Ya Rabbku, sungguh (semua) tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, Ya Rabbku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap (mawali) keluarga dekat sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.” [Q.S. Maryam:4-5]

TAWAKAL, KEKUATAN TAK ADA BANDINGAN
Segala yang mustahil di sisi manusia, tidaklah mustahil di sisi Allah. Allah Maha Mampu untuk menakdirkan apapun yang Ia inginkan. Sebagai muslim kita percaya, Allah Maha Mampu atas segala hal. Namun, tak semua kita bisa menerapkan keyakinan tersebut dalam hidup kita. Saat tertimpa musibah, sebagian muslimin justru bersandar kepada faktor dunia mereka. Saat mendapatkan kebahagiaan pun sebagian muslimin menyandarkan kesuksesan kepada faktor dunia. Dimanakah keyakinan kita terhadap kemampuan Allah? Sekiranya kita mendapat ujian-ujian yang berat akankah kita tetap bertawakal kepada-Nya?
Allah mengisahkan besarnya cobaan para shahabat Rasulullah صَلَى اْللّٰهُ عَلَيْه وَسَلَم :

إِذْ جَآءُوْكُمْ مِّنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (١۰)
هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا (١١)

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.
Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” [Q.S. Al Ahzab : 10-11]

Kepada siapakah tawakal kita, bila Allah menguji kita dengan ujian berat?

Nabi Zakaria adalah teladan kita dalam kesabaran dan kekokohan keyakinan kepada Allah. Walau telah tua dan mengetahui istri beliau mandul, sebab secara akal mendapat anak sangat tipis, toh beliau tetap meminta kepada-Nya.

Sungguh keyakinan akan kemampuan dan anugerah-Nya begitu kuat, keyakinan yang muncul dari seorang muwahid. Kuatnya keyakinan memunculkan tawakal. Tawakal adalah modal utama seorang masuk ke dalam surga-Nya tanpa azab dan tanpa hisab, simaklah hadis Ukasyah:

هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْ خُلُونَ الْجَنَّةَ بِِلَا حِسَابٍ، وَلَا عَذَا بٍ

“Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu, yang masuk ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa azab.”

Siapakah mereka?

Dalam kelanjutan hadis tersebut Rasulullah صَلَى اْللّٰهُ عَلَيْه وَسَلَم mengatakan:

هُمُ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْ قُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka adalah orang yang tidak bertathayyur (beranggapan sial), tidak meminta ruqyah, tidak minta dikay (pengobatan dengan besi panas) dan kepada Rabb mereka bertawakal.”

DOA SENJATA KAUM BERIMAN
Doa muslimin senantiasa dinilai ibadah. Karena doa adalah ibadah, Allah menyediakan pahala bagi siapa yang mau berdoa kepada-Nya. Lebih dari itu, dengan doa yang dipanjatkan, Allah akan malu mengembalikan tangan orang yang berdoa dalam keadaan hampa, tidak ada hasilnya.
Doa adalah sebuah kemuliaan di sisi-Nya, Rasulullah صَلَى اْللّٰهُ عَلَيْه وَسَلَم mengatakan:

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dari doa.”
[ H.R. At Tirmidzi, di hasankan oleh Al Albani dalam shahih At Tirmidzi]

Oleh karenanya, seorang muslim tidak akan lalai untuk selalu berdoa. Memanjatkan kebutuhan-kebutuhannya kepada Allah. Semoga Allah mengabulkan doanya, sebagaimana Allah mengabulkan doa Nabi Zakaria عَلَيْهِ السَّلَامُ.

[ Ustadz Hammam ]

Sumber: Majalah Tashfiyah. Edisi 82. Vol. 07. 1440H/2018M. Hal. 70-74

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *